Share |

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
POKOK BAHASAN PECAHAN MELALUI PENDEKATAN HUMANISTIS

(PTK di SD Karangtalun 02 Tanon)
Oleh :Purwati/A410020002
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan motivasi belajar matematika
siswa dengan menggunakan pendekatan humanistis. Subyek penelitiannya adalah
siswa kelas V SD Negeri Karangtalun 02 Tanon sejumlah 29 siswa. Data
dikumpulkan melalui metode observasi, tes, catatan lapangan, dan dokumentasi.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas bersifat kolaboratif antara
peneliti, guru matematika dan kepala sekolah.

Analisis data secara kualitatif
melalui tiga alur. Data hasil penelitian menyimpulkan terdapat peningkatan
motivasi belajar matematika siswa yang meliputi keaktifan, perhatian dan
kemandirian belajar siswa meningkat mencapai 82,76 %. Disamping itu hasil
belajar siswa juga meningkat mencapai 82,76 %. Kesimpulan penelitian ini adalah
bahwa penerapan pendekatan humanistis dalam pembelajaran matematika
khususnya pokok bahasan bilangan pecahan dapat meningkatkan motivasi belajar
siswa.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya teknologi
informasi sekarang ini telah memberikan dampak positif dalam semua aspek
kehidupan manusia termasuk juga aspek pendidikan. Di satu sisi aspek ini
telah memungkinkan kita untuk memperoleh banyak informasi dengan cepat
dan mudah dari berbagai tempat di dunia, di sisi lain kita tidak mungkin
mempelajari keseluruhan informasi dan pengetahuan yang ada, karena sangat
banyak dan tidak semuanya diperlukan.
Untuk menghadapi tantangan perkembangan teknologi informasi
tersebut dituntut sumber daya yang handal dan mampu berkompetisi secara
global, sehingga diperlukan ketrampilan tinggi, pemikiran kritis, sistematis,
logis, kreatif, dan kemauan bekerja sama yang efektif. Cara berpikir seperti ini
dapat dikembangkan melalui pendidikan matematika. Hal ini sangat
dimungkinkan karena matematika memiliki struktur dengan keterkaitan yang
kuat dan jelas satu dengan lainnya serta berpola pikir deduktif dan konstan.
Pembelajaran adalah suatu proses yang rumit karena tidak sekedar
menyerap informasi dari pendidik, tetapi melibatkan berbagai kegiatan dan
tindakan yang harus dilakukan terutama bila diinginkan hasil belajar yang
lebih baik. Salah satu kegiatan pembelajaran yang menekankan berbagai
kegiatan dan tindakan adalah menggunakan pendekatan tertentu dalam
pembelajaran, karena suatu pendekatan dalam pembelajaran pada hakikatnya
merupakan cara yang teratur dan terpikir secara sempurna untuk mencapai
suatu tujuan pengajaran dan untuk memperoleh kemampuan dalam
mengembangkan aktivitas belajar yang dilakukan oleh pendidik dan peserta
didik. Pendekatan ini mempunyai peran yang sangat penting untuk
menentukan berhasil atau tidaknya pembelajaran yang diinginkan.
Proses pendidikan dalam pembelajaran di sekolah mulai Sekolah Dasar
(SD) sampai Sekolah Menengah Umum (SMU) khususnya di Indonesia pada
era modern sekarang ini masih belum memuaskan, selalu mengalami suatu
produk atau hasil pendidikan yang berkualitas. Berbagai usaha telah dilakukan
pengelola pendidikan untuk memperoleh kualitas dan kuantitas pendidikan
dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa. Adapun kreativitas
pengelola pendidikan termasuk guru yang yang dipersyaratkan yaitu harus
memiliki wawasan pendidikan yang luas, berorientasi ke depan yang selalu
memikirkan inovasi pendidikan apa yang perlu digali, serta dapat memenuhi
harapan dan kebutuhan siswa untuk menyongsong kehidupan di masa
mendatang. Langkah ini merupakan langkah awal untuk meningkatkan
sumber daya manusia.
Matematika sebagai ilmu dasar memegang peranan peranan penting
dalam segala bentuk kehidupan manusia. Dengan kemampuan yang dimiliki
manusia akan membantu proses berpikir dalam melakukan kegiatan sehari-
hari yang dilatarbelakangi matematika.
Namun di sisi lain kita menghadapi kenyataan yang sangat
memprihatinkan terhadap kelanjutan nasib anak bangsa ke generasi
mendatang, misalnya:
1) Banyaknya siswa yang kurang termotivasi untuk mempelajari topik-topik
matematika dan menyelesaikan soal-soal yang ditugaskan guru.
2) Banyaknya siswa yang menjadi was-was menerima pelajaran matematika
dikarenakan trauma terhadap ketidakmampuan belajar matematika pada
kelas yang lebih rendah.
3) Sebagian orang tua mengeluh karena tidak dapat membimbing belajar
anak-anaknya sesuai dengan pendekatan yang diajarkan oleh guru serta
lebih memberi tekanan bahwa matematika adalah pelajaran yang sukar,
sehingga anak kurang mempunyai kepercayaan diri untuk sukses dalam
pelajarannya.
Dari permasalahan-permasalahan di atas, jelaslah bahwa matematika
dalam pandangan orang merupakan sesuatu pengetahuan atau ilmu yang sukar
sehingga menimbulkan phobia di kalangan anak didik. Matematika di sekolah
dasar yang di dalamnya termuat banyak materi termasuk bilangan pecahan,
merupakan salah satu pokok bahasan yang dirasa sukar. Hal ini terjadi selain
karena permasalahan atau uraian di atas juga disebabkan oleh kesalahan dalam
mengajarkan konsep-konsep dasar bilangan pecahan yaitu apabila siswa
Sekolah Dasar masih bersifat terbuka maka masih ada harapan dapat
memperbaiki kesalahan konsep tersebut, namun jika siswa hanya menerima
tidak memberi umpan balik berupa pertanyaan atau mau aktif menjawab
pertanyaan guru mengenai konsep dasar bilangan pecahan maka kesalahan
konsep dasar bilangan pecahan maka kesalahan konsep dasar tersebut akan
dibawa terus sampai pada suatu saat siswa menyadari mendapati konsep dasar
bilangan pecahan yang ia miliki itu keliru.
Menurut Usman dan Setiawati (1993: 9-10) tinggi rendahnya prestasi
belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal yaitu yang berasal dari dalam diri sendiri meliputi
faktor fisiologis dan faktor psikologis. Faktor psikologis antara lain panca
indera yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, berfungsinya kelenjar
tubuh yang membawa kelainan tingkah laku. Sedangkan faktor psikologis
antara lain kecerdasan, bakat, sikap, kebiasaan, minat kebutuhan, motivasi,
emosi dan penyesuaian diri. Faktor eksternal yang berasal dari luar diri siswa
yang berupa lingkungan dan faktor budaya. Faktor tersebut saling berinteraksi
baik secara langsung maupun tidak langsung dalam mempengaruhi prestasi
belajar.
Selain hal-hal tersebut di atas, keberhasilan belajar seseorang tidak
lepas dari motivasi siswa yang bersangkutan. Oleh karena itu pada dasarnya
motivasi belajar merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan
belajar seseorang. Seseorang siswa yang pernah mengalami keberhasilan pada
jenjang pendidikan sebelumnya akan termotivasi untuk terus berusaha secara
maksimal. Upaya tersebut dilakukan untuk mempertahankan prestasinya serta
untuk mencapai hasil yang lebih optimal. Siswa yang telah termotivasi dalam
belajar matematika, ia akan lebih bersemangat dalam mempelajarinya
sehingga menumbuhkan minat belajarnya. Siswa mempunyai minat belajar
yang tinggi akan selalu berusaha mencari, menggali, dan mengembangkan
potensi dasar (bakatnya). Sehingga dapat menumbuhkan rasa percaya diri
serta akan tercipta motivasi belajar matematika yang sangat tinggi. Oleh
karena itu penulis ingin meneliti tentang sistem pembelajaran matematika,
dimana guru memahami dan memperhatikan latar belakang emosi, dorongan,
dan kemampuan individu siswa yang berbeda tingkat intelegensi serta adanya
penyesuaian materi pembelajaran dan tugas belajarnya. Kegiatan
pembelajarannya dengan cara guru melakukan dan memberi kesempatan siswa
seluas-luasnya untuk mengutarakan semua gagasan dan konsepsinya tentang
pokok bahasan bilangan pecahan, kemudian berdiskusi dalam kelompok-
kelompok kecil, dan selanjutnya salah satu siswa perwakilan dari kelompok
kecil tersebut menjelaskan hasil diskusinya di depan kelas. Hal ini disebut
sebagai “Sistem pembelajaran matematika dengan penggunaan pendekatan
humanistis.”
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang di atas, maka
dapat diidentifikasikan permasalahannya dalam pembelajaran matematika
yang menyangkut tentang keberhasilan siswa seperti: anggapan atau
pandangan yang salah terhadap matematika, kemampuan matematika dan
kualitas pengajaran matematika yang rendah, kurangnya kemampuan siswa
memecahkan permasalahan dalam hitung bilangan pecahan, pemilihan
pendekatan pembelajaran matematika yang salah. Perlu disadari bahwa
anggapan atau pandangan yang salah terhadap matematika yaitu menganggap
bahwa matematika adalah sesuatu pengetahuan atau ilmu yang sukar, dapat
menimbulkan phobia di kalangan anak didik dimana anak didik tertanam
perasaan cemas, dan takut jika berhadapan dengan matematika.
Rendahnya motivasi siswa dikarenakan guru dalam menerangkan
materi matematika kurang jelas dan kurang menarik perhatian siswa dan pada
umumnya guru terlalu menarik perhatian siswa dan pada umumnya guru
terlalu cepat dalam menerangkan materi, di samping itu penggunaan
pendekatan pengajaran yang salah, sehingga siswa dalam memahami dan
menguasai materi masih kurang dan nilai yang diperoleh siswa cenderung
rendah.
Dalam pembelajaran matematika khususnya pembelajaran bilangan
pecahan yang dianggap sukar oleh kebanyakan siswa Sekolah Dasar, perlu
melakukan suatu perbaikan pendekatan pembelajaran yang sesuai dan cocok
dengan karakteristik individu siswa yang berbeda-beda agar tercapai
keberhasilan serta motivasi siswa dalam pembelajaran yang diinginkan. Untuk
itu diperlukan profesionalisme guru dalam memilih pendekatan pembelajaran.
Salah satu diantaranya kemungkinan penggunaan pendekatan humanistis
dalam pembelajaran matematika pokok bahasan bilangan pecahan pada siswa
kelas V Sekolah Dasar.
C. Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini lebih efektif, efesien, terarah dan dapat dikaji lebih
mendalam, maka diperlukan pembatasan masalah. Adapun hal-hal yang
membatasi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Rancangan pembelajaran matematika yang akan diterapkan dengan
pendekatan humanistis yaitu pendekatan pembelajaran dengan
menggunakan penekanan pada proses pembentukan suatu konsep dan
memberikan kesempatan luas kepada siswa berperan aktif dalam proses
tersebut.
2. Motivasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika dibatasi
pencapaian keberhasilan penguasaan materi pokok bahasan bilangan
pecahan.
3. Proses pembelajaran matematika dalam menguasai materi pokok bahasan
bilangan pecahan.
D. Perumusan Masalah dan Pemecehan Masalah
1. Perumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang masalah dan identifikasi masalah
penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
“Apakah pembelajaran dengan menggunakan pendekatan humanistis
dapat meningkatkan motivasi belajar siswa?”
2. Pemecahan Masalah
Keberhasilan “Peningkatan motivasi belajar siswa dalam
pembelajaran matematika melalui pendekatan humanistis” pada penelitian
tindakan kelas ini ditentukan dari peningkatan sikap belajar yaitu perasaan
senang, perhatian, konsentrasi, kesadaran, dan kemauan siswa dalam
proses belajar. Tindakan yang dilakukan guru dalam pembelajaran untuk
meningkatkan motivasi siswa adalah: a) Menggunakan pola pembelajaran
dengan kombinasi klasikal, kelompok dan individual, b) Memberitahukan
tujuan pembelajaran, inti materi ajar dan kegiatan yang akan dilakukan, c)
menyampaikan materi ajar secara sistematis dan jelas sesuai dengan
pendekatan humanistis, d) memberi petunjuk langka-langkah pengerjaan
ada setiap soal yang dianggap sulit, e) selalu mengingat siswa untuk
mengulangi materi ajar yang akan dibahas, f) mendorong semangat
belajar siswa agar menumbuhkan motivasi belajar siswa, g) membantu
siswa memperbaiki kesalahannya dengan sikap ramah, simpati, dan
terbuka, h) menciptakan iklim belajar yang kondusif, sehingga mampu
mendorong siswa untuk aktif belajar, i) mendorong siswa untuk saling
belajar dan mengajar dalam suatu kelompok.
E. Tujuan Penelitian
Selajan dengan masalah penelitian yang dikemukakan di atas, tujuan
penelitian ini adalah sebagai berikut:
“Mengetahui motivasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika dengan
pendekatan humanistis”
F. Manfaat Penelitian
Dalam penelitian ini penulis berharap semoga hasil pemilihan dapat
memberikan manfaat konseptual utamanya kepada pembelajaran matematika.
Di samping itu juga kepada penelitian peningkatan mutu proses dan hasil
pembelajaran matematika Sekolah Dasar.
1. Manfaat teoritis
Secara umum hasil penelitian ini diharapkan secara teoritis dapat
memberikan sumbangan kepada pembelajaran matematika Sekolah Dasar,
utamanya pada peningkatan motivasi siswa Sekolah Dasar melalui
penggunaan pendekatan humanistis. Mengingat seorang siswa Sekolah
Dasar merupakan subyek pembelajaran yang mempunyai: cipta, rasa dan
karsa yang mengerti dan menyadari akan keberadaan dirinya, memiliki
budi dan kehendak, memiliki dorongan untuk mengembangkan potensi
pribadinya yang telah mereka miliki sebelumnya untuk digunakan secara
aktif dalam pembentukan konsepsi dan definisi matematika untuk
memenuhi tuntutan tersebut ialah pendekatan humanistis.
2. Manfaat praktis
Dilihat dari segi praktis, penelitian ini memberikan manfaat antara lain:
a. Bagi penulis, untuk mengetahui sejauh mana peningkatan motivasi
siswa setelah dilakukan proses pembelajaran dengan pendekatan
humanistis.
b. Bagi guru matematika, dengan pendekatan humanistis ini digunakan
untuk menyelenggarakan pembelajaran matematika Sekolah Dasar
yang aktif dan kreatif.
c. Bagi siswa, proses pembelajaran dengan pendekatan humanistis ini
dapat meningkatkan kemampuan dan motivasi siswa dalam bidang
studi matematika.