PENGARUH MOTIVASI KERJA GURU, PENGALAMAN KERJA GURU DAN PROFESIONALISME GURU TERHADAP KINERJA

Share |

PENGARUH MOTIVASI KERJA GURU, PENGALAMAN KERJA
GURU DAN PROFESIONALISME GURU TERHADAP KINERJA

GURU SMK MUHAMMADIYAH SE KABUPATEN KLATEN
Oleh: Sriyono
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah.
Setiap negara membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas
karena sumber daya manusia yang berkualitas akan berdampak positif
terhadap perkembangan pembangunan suatu bangsa dalam berbagai bidang.
Tidak hanya dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi
juga sikap mental yang baik. Oleh karena itu, setiap negara selalu berusaha
untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Untuk meningkatkan
kualitas sunber daya manusia itu dapat dilakukan dengan meningkatkan
kualitas pendidikan bangsanya karena dengan pendidikan yang berkualitas
akan tercipta sumber daya manusia yang berkualitas pula, yang pada akhirnya
dapat mendukung terwujudnya target pembangunan nasional.

Sumber daya manusia yang berkualitas akan dapat mengembangkan
potensi yang dimiliki untuk kemajuan bangsa dan negaranya. Hal itu sesuai
dengan tujuan pendidikan nasional yang menyatakan bahwa pendidikan
nasional bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
mempunyai akhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri, dan demokratis,
serta memiliki rasa kemasyarakatan dan kebangsaan. Sejalan dengan hal itu,
Hasibuan (2003: 144) menyatakan bahwa sumber daya manusia menjadi unsur
pertama dan utama dalam setiap aktivitas yang dilakukan. Peralatan yang
andal atau canggih tanpa adanya peran aktif sumber daya manusia tidak akan
1
2
mempunyai arti apa-apa. Walaupun berbagai upaya dalam peningkatan
kualitas pendidikan telah dilakukan, kenyataanya prestasi dalam bidang
pendidikan yang telah dicapai Indonesia belum menunjukkan hasil yang
menggembirakan. Pada tahun 1995 misalnya, dari 174 negara, Indonesia
menduduki peringkat ke-104, sedangkan pada tahun 2000 menduduki
peringkat ke-109, dan pada tahun 2002 menduduki peringkat ke-110 (Adnan,
2003:3). Berdasarkan data tersebut, terlihat bahwa kualitas pendidikan di
Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain, mengalami penurunan.
Oleh karena itu, upaya peningkatan kualitas pendidikan harus lebih
diperhatikan dan ditingkatkan lagi.
Relevansi dan kualitas pendidikan, termasuk pendidikan dasar justru
masih merupakan sebagian masalah pokok pendidikan Nasional yang belum
terpecahkan dengan baik. Dalam rangka meningkatkan relevansi dan kualitas
pendidikan ini sesungguhnya banyak usaha yang telah ditempuh pemerintah,
antara lain berupa pembaharuan kurikulum dan metode mengajar, peningkatan
sarana dan prasarana pendidikan, peningkatan pengadaan buku pelajaran dan
buku bacaan, penataran guru serta pengembangan profesional / staf lainnya,
dan peningkatan kualitas guru SLTP, SLTA dan yang sederajat. Dari usaha ini
banyak hasil yang telah dicapai tapi masih perlu ditingkatkan agar dapat
mencapai standart kualitas yang diharapkan.Untuk memperoleh gambaran
yang lebih mendalam dan terperinci tentang ruang lingkup penelitian, serta
untuk menghindari dari penafsiran yang berbeda sekaligus karena alasan dan
pertimbangan keterbatasan yang ada pada penelitian maka penelitian ini
3
ditujukan kepada para guru, terutama guru setingkat SLTA untuk mengejar
perkembangan atau kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, maka
sebaiknya kualitas guru harus ditingkatkan diantaranya peningkatan
pendidikan guru. Di sini Pemerintah telah berusaha untuk meningkatkan
pendidikan guru dengan berbagai cara yang telah ditempuh misalnya dengan
adanya program penyetaraan guru setingkat lebih baik, sehingga dapat
meningkatkan kualitasnya. Di samping itu guru disuatu sekolah memiliki
masa kerja dan pengalaman kerja yang beragam. Di mana keragaman masa
kerja guru secara tidak langsung akan mempengaruhi pengalaman kerja dan
pemahaman terhadap tugas profesinya. Semakin lama guru mengajar semakin
bertambah pengalaman disegala bidang dan semakin lama pula menekuni
profesinya berarti semakin baik pula pemahaman terhadap tugas profesinya.
Seorang guru tidak hanya bertugas sebagai pengajar saja sebagai tugas
pokoknya, ada sejumlah tugas yang dapat dikerjakan guru disamping tugas
pokoknya sebagai pengajar. Tugas-tugas sampingan itu masih sejalan dengan
tugas profesinya. Sehingga kepercayaan masyarakat sekolah terhadap guru
untuk mengerjakan tugas sampingan selain mengajar, diharapkan semakin
mampu meningkatkan profesionalisme mereka. Semakin banyak tugas dan
kepercayaan diberikan kepada seorang guru, semakin berkembang sikap
profesionalisme mereka. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas akan
meningkatkan kinerja guru, dengan adanya peningkatan kinerja guru akan
mengurangi kesenjangan antara tingkat motivasi kerja guru pengalaman kerja
dan tingkat profesionalimenya. Maka dengan kemampuan dasar seorang dapat
4
terbentuk karena beberapa hal, antara lain tingkat motivasi kerja, pengalaman
kerja dan profesinya mampu untuk meningkatkan kinerjanya.
Seorang guru adalah individu manusia yang unik, artinya tidak ada dua orang
guru yang sama persis dalam aspek-aspek pribadinya termasuk dalam hal
semangat pengabdiannya. Dengan demikian adanya ketidaksamaan tersebut
kepala sekolah selaku pimpinan harus mengerti perbedaan-perbedaan yang
ada pada diri guru sebagai bawahannya.
Kondisi guru-guru di SMK Muhammadiyah se-Kabupaten Klaten
menunjukan adanya komitmen yang tinggi dalam pengabdiannya disekolah-
sekolah Muhammadiyah. Hal ini dapat ditunjukan adanya jam mengajar yang
tidak pernah kosong, perhatian pada aktivitas belajar siswa tinggi, ukhuwah
islamiahnya baik, kepala sekolah selalu memonitor pembelajaran di sekolah.
Dengan keadaan sekolah tersebut diharapkan SMK Muhammadiyah se-
Kabupaten Klaten mampu menciptakan out-put yang sesuai dengan harapan
masyarakat. Persoalannya kondisi kualitas siswa pada umumnya lebih rendah
dari pada sekolah-sekolah negeri, yang mana siswa merupakan faktor utama
dalam proses pembelajaran yang akan mewarnai kualitas aut-put.
Kondisi sekolah-sekolah SMK Muhammadiyah Klaten satu dengan yang lain
tidak sama, baik letak, jumlah siswa, guru, gaji dan sebagainya. Guru-guru
SMK Muhammadiyah Klaten terdiri dari guru-guru tetap dan guru-guru tidak
tetap. Guru tetap terdiri guru tetap persyarikatan dan guru tetap dari
pemerintah. Guru tetap persyarikatan sejumlah 75 orang, sedang untuk guru
5
tetap pemerintah sejumlah 63 orang, dan guru tidak tetap sejumlah 398 orang
(Sumber dari PDM Majelis Dikdasmen Klaten).
Pengenalan, pemahaman, dan perwujudan kompensasi dasar sebagai
guru “sangat dipengaruhi oleh jenis dan mutu pendidikan, persiapan ( pre-
service edukation ) yang pwelu diterima seorang guru “ (Nawawi, 1992:124).
Penguasaan kompetensi dasar sebagai guru tersebut sangat dipengaruhi
perkembangan dan kemajuan penyelenggaraan pendidikan formal. Guru yang
memahami kedudukan atau fungsinya sebagai pendidik profesional, selalu
terdorong untuk tumbuh dan berkembang sebagai perwujudan perasaan dan
sikap tidak puas terhadap pendidikan, persiapan yang telah diterimanya dan
sebagai pernyataan dari kesadarannya terhadap perkembangan dan kemajuan
bidang tugasnya yang harus di ikuti, yaitu : “mendidik, mengajar, dan
melatih” (Usman, 2002:7). Sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi kreatifitas dan inisiatif guru harus harus mendorong untuk
mendapatkan profesional dalam meningkatkan kemampuannya sebagai
petugas profesional. Pengalaman profesional yang berharga hanya diperoleh
oleh guru yang selalu bersedia mewujudkan gagasan untuk memperbaiki
kinerjanya. Guru yang terus menerus tumbuh dan berkembang secara
profesional akan mampu menciptakan situasi pembelajaran yang dinamis di
kelas dan di luar kelas. Akan tetapi banyak sekolah “ yang memiliki sedikit
guru profesional dan tidak mampu melakukan proses pembelajaran secara
optimal” ( Mulyasa, 2004:56).
6
Kepala sekolah sebagai pimpinan yang tertinggi sangat berpengaruh
dan menentukan kemajuan sekolah. Oleh karena itu pembinaan profesional
guru yang berupa studi lanjut atau meningkatkan profesional guru yang
sifatnya khusus, menjadi tanggung jawab kepala sekolah,”melalui pembinaan
dan meningkatkan profesional guru akan dapat meningkatkan kinerja guru”
( Mulyasa, 2004: 79).
Sebagai pimpinan formal, kepala sekolah bertanggung jawab atas
tercapainya tujuan sekolah melalui upaya peningkatan profesionalinme guru
kearah peningkatan prestasi belajar mengajar. Untuk itu, kepala sekolah harus
mampu untuk memberikan dorongan-dorongan atau motivasi kerja yang lebih
baik agar terlaksana proses belajar secara efektif dan ifisien, misalnya :
pemberian kesejahteraan, perhatian, dan kemudahan-kemudahan, yang akan
dapat meningkatkan kinerja guru. Disamping itu kepala sekolah harus
memberikan kesempatan kepada guru untuk memperoleh pengalaman-
pengalaman seperti studi lanjut, diikutkan dalam pelatihan-pelatihan, duduk
dalam kepanitiaan dan sebaginya, sehingga akan menambah pengalaman para
guru yang cukup sesuai dengan kebutuhan sekolah.
Pengamatan sementara ditempat penelitian menunjukkan bahwa masih
banyak kinerja guru-guru SMK. Muhammadiayah se Kabupaten Klaten,
khususnya guru-guru tetap persyarikatan belum maksimal. Hal ini dapat
dilihat sepuluh kompetensi guru yang seharusnya di kuasai dan dijalankan
oleh guru banyak yang belum terpenuhi, seperti penguasaan guru tentang
landasan pendidikan, layanan bimbingan belajar, melakukan penelitian,
7
mengelola preses belajar mengajar. Belum dikuasai dan dijalankan sebagian
dari sepuluh kompetensi oleh guru, dapat memberikan gambaran tentang
profesionalitas guru. Kondisi demikian sangat tergantung pada kepemimpinan
kepala sekolah, motivasi kerja, pengalaman, dan profesional guru.
Realita menunjukkan “kemampuan managerial sering dihadapi kepala
sekolah di lapangan” ( Muktadin Zainun, 2002: 1 ), untuk membangun
semangat kerja para guru. Artinya kepala sekolah (terutama yang baru)
banyak yang tidak siap ketika diberikan tanggung jawab membimbing,
melatih, memotivasi, dan menilai kinerja para guru. Kepala sekolah
merupakan salah satu komponen pendidikan yang sangat berperan dalam
meningkatkan kualitas pendidikan. Para kepala sekolah di SMK.
Muhammadiyah Se Kabupaten Klaten belum semuanya bisa meningkatkan
kualitas pendidikan secara optimal. Hal ini terlihat kualitas pembelajaran
belum maksimal, pengembangan profesionalisme guru belum merata.
SMK. Muhammadiyah Klaten, merupakan salah satu sekolah swasta
yang dikelola oleh persyarikatan, berarti sepenuhnya bergantung kepada
swadaya yang diberikan oleh peserta didik. Hal yang masih sering terjadi
“uang lelah” guru di sekolah swasta terlalu kecil untuk standar kehidupan
yang layak. Hal tersebut tidak jarang menyebabkan pengabdian guru tidak
optimal, karena masih harus mencari tambahan penghasilan, berbeda dengan
guru-guru pemerintah yang ditempatkan di SMK. Muhammadiyah Klaten
standar kehidupannya lebih baik dari pada guru-guru tetap persyarikatan.
8
Kualitas pendidikan sangat diharapka oleh lembaga-lembaga
pendidikan baik pemerintah maupun swasta, untuk itu diperlukan semangat
kerja dari para guru yang dapat meningkatkan kinerja dari para guru, dan akan
terjadi manakala faktor: motivasi kerja, pengalaman kerja, dan profesional
guru, yang merupakan variabel-variabel yang signifikan dalam menghasilkan
peningkatan kinerja guru yang efektif dan efisien, sehingga kualitas
pendidikan dan tujuan pendidikan dapat dicapai.
B. Identifikasi Masalah.
Bertolak dari latar belakang masalah tersebut, permasalahan dalam
penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1. Pembangunan nasional memerlukan suber daya manusia yang berkualitas.
Suber daya manusia yang berkualitas tidak akan tercipta tanpa dukungan
pendidikan yang berkualitas juga, sedangkan kualitas pendidikan di negara
kita belum memenuhi harapan yang diinginkan.
2. Guru merupakan salah satu komponen yang memegang peranan penting
dalam keberhasilan pendidikan. Untuk meningkatkan pendidikan yang
berkualitas, prestasi kerja guru harus ditingkatkan. Walaupun guru bukan
satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan, gurulah yang terjun
langsung berhadapan dengan peserta didik. Dalam kenyataan, masih
banyak guru yang belum bekerja sesuai dengan yang diinginkan.
3. Motivasi kerja guru masih beragam. Ada yang untuk kebutuhan
berprestasi, kebutuhan bersahabat, dan ada pula yang untuk kebutuhan
kekuasaan.
9
4. Pengalaman kerja guru yang belum maksimal, dan ada guru yang
pengalamannya sudah maksimal tetapi dalam mengajar masih
mendasarkan diri pada naluri, bukan pada teori.
5. Masih banyak masyarakat terutama para pakar mempertanyakan persoalan
profesi guru.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian tersebut diatas maka permasalahan yang perlu
dirumuskan dalam penelitian ini adalah :
Adakah pengaruh motivasi kerja guru terhadap kinerja guru SMK
Muhammadiyah se-Kabupaten Klaten, adakah pengaruh pengalaman kerja
guru terhadap kinerja guru SMK Muhammadiyah se-Kabupaten Klaten,
adakah pengaruh professionalitas guru terhadap kinerja guru SMK
Muhammadiyah se-Kabupaten Klaten, adakah pengaruh motivasi kerja,
pengalaman kerja dan profesionalitas guru terhadap kinerja guru SMK
Muhammadiyah se-Kabupaten Klaten.
D. Tujuan Penelitian.
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor ekternal
yaitu motivasi kerja guru, pengalaman kerja guru, profesionalitas guru
terhadap kinerja guru SMK Muhammadiyah se-Kabupaten Klaten.
E. Manfaat Penelitian.
Hasil penelitian diharapkan bermanfaat bagi Kepala sekolah, guru
dan para pembaca. Bagi kepala sekolah hasil penelitian ini sebagai masukan
dalam rangka meningkatkan kinerja guru melalui perencanaan yang matang,
10
pembinaan, dan pengembangan. Dengan demikian, diharapkan akan ada
kualitas pendidikan sekolah yang diampunya. Bagi guru, hasil penelitian ini
dapat digunakan sebagai masukan dalam rangka memotivasi diri dan
pengembangan diri untuk meningkatkan kinerja sehingga peningkatan kualitas
pendidikan yang diharapkan dapat terwujud. Bagi para pembaca, hasil
penelitian ini dapat digunakan untuk menambah pengetahuan sehingga dapat
memberikan sumbang saran kepada sekolah dalam rangka ikut mendukung
usaha peningkatan kualitas pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
As’ad, Muhammad (1998). Ilmu Sumber Daya Mnusia. Yogyakarta: Liberty.
Asy’ari, Musa (2001). Profesionalisme dan Produktivitas Karya Dalam Islam.
Makalah Baitul Arqom Dosen-Dosen UMS di Gedung PSPA
Bimamartani Yogyakarta, 24-26 Agustus 2001.
Alex, Niti Semito (1992). Manajemen Personalia, Ghalia Indonesia.
Danim, Sudarwan (2002). Inovasi Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.
Dharma, Agus (2000). Manajemen Supervisi, PT. Raja Grafindo Persada.
Djamaludin, Ancok (1989). Teknik Penyusunan Skala Pengukur. Yogyakarta;
Pusat Penelitian Kependudukan UGM.
Hamalik, Oemar (2002). Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi.
Jakarta; Gunung Agung.
Handoko, T. Hani (1997). Manajemen. Yogyakarta; BFEE.
Hasibuan, Malayu S.P. (2001). Manajemen Suber Daya Manusia. Jakarta PT.
Bumi Aksara.
Heidjrachman dan Suad Husnan (2002). Manajemen Personalia. Yogyakarta;
BFEE.
Jalal, Fasli dan Supriyadi, Dedi (2001). Reformasi Pendidikan Dalam Konteks
Otonomi Daerah. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.
Markhamah (2003). Profesionalisme Tenaga Pengajar Dalam Dunia Pendidikan.
Makalah Seminar Nasional: 13 September 2003 di UMS.
Marsell James (2004). Suceess Ful Teaching, Megraw Hill Book Company, Inc.
Moh. Uzer, Usman (2000). Menjadi Guru Profesional, Bandung; PT. Remaja
Rosdakarya.
Mulyadi & Setyawan Johny (1994). Sistem Perencanaan dan Pengendalian
Manajemen. Jakarta; Salemba Empat.
Mulyasa, E (2002). Manajemen Bwebasis Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mu’takdin, Zainun (2002). Membimbing Bawahan. Http:// www. Psikologi
semker. Htm.
Nawawi, Hadari (1992). Organisasi Kelas dan Pengelolaan Kelas. Jakarta:
Gunung Agung.
(2000). Manajemen Statistik. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
N. K. Rustiyah (1986). Masalah-Masalah Ilmu Keguruan. Jakarta; Bina Aksara.
Nurwijaya, Chandromi (1998}. Upaya Peningkatan Mutu SLTP dan SMU Jawa
Tengah Tahun Pelajaran 1998/1999. Depdikbud.
Prawiro Sentono, Suryadi (1999). Manajemen Sumber Daya Manusia, Kebijakan
Kinerja Karyawan. Yogyakarta; BPFE.
Purwanto, M. Ngalim (2002). Psikologi Pendidikan. Bandung; PT. Remaja
Rosdakarya.
Riva’I Vailhzal (2003). Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, Jakarta; Raja
Grafinda Persada.
Soetjipto, Raflis Kosasi (1999). Profesi Keguruan, Jakarta; PT. Rineka Cipta.
Solo Pos (29 Juni 2004.
Sudjana (1992). Metode Statistik, Bandung; Penerbit Tarsito.
Sugiyono ( 2002). Statistik Untuk Penelitian, Bandung; CV. Alfabeta.
Suharsimi, Arikunto (1992). Manajemen Penelitian, Jakarta Rinaka Cipta.
Suhertian, Piet A (2000). Supervisi Pendidikan. Jakarta; Rineka Cipta.
(1992). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,
Jakarta; Rinaka Cipta.
Sukidin, dkk. (2003). Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya; Kesan
Cendikiawan.
Sutrisno, Hadi (1992). Manajemen Penelitian, Jakarta; Rinaka Cipta.
(1987). Metodologi Research Jilit 3, Yogyakarta; Andi Affset
(1992). Statistik Jilit 2, Yogyakarta; Andi Affset..
Tilaar, H. A. R.(1998). Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional.
Jakarta; Tera Indonesia.
UURI Nomor 20 Tahun 2003. tentang Sisdiknas. Bandung: Citra Umbara.