Tampilkan postingan dengan label skripsi.S1.pendidikan Matematika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label skripsi.S1.pendidikan Matematika. Tampilkan semua postingan

EFEKTIVITAS CARA BELAJAR SISTEM MODUL DISERTAI
PEMBERIAN TUGAS DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR
SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA

(Pada Siswa Kelas I SMP Negeri 2 Gatak Sukoharjo Tahun Ajaran 2006/2007)
Oleh: MARGIYANTI
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Ada tidaknya perbedaan
pembelajaran dengan sistem modul disertai pemberian tugas akan menghasilkan
prestasi belajar matematika yang lebih baik jika dibandingkan dengan metode
konvensional, (2) Untuk mengetahui prestasi belajar matematika siswa yang
memiliki motivasi belajar tinggi akan lebih baik jika dibandingkan dengan siswa
yang mempunyai motivasi belajar rendah, (3) Untuk mengetahui adanya interaksi
antara proses pembelajaran dengan sistem modul disertai pemberian tugas dan
motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika.
Penelitian dilakukan
dengan menggunakan metode eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah
siswa kelas I SMP Negeri 2 Gatak Tahun Ajaran 2006/2007 yang terdiri dari 6
kelas dengan jumlah siswa 239 orang. Dengan cara mengundi lebih dahulu,
diperoleh hasil bahwa sampel yang terpilih dalam penelitian ini adalah kelas IA
dan kelas IB dengan banyaknya siswa masing-masing kelas adalah 40 orang.
Kelas yang terpilih sebagai kelas eksprerimen adalah kelas IA dan sebagai kelas
kontrol adalah kelas IB. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode
dokumentasi untuk memperoleh data kemampuan siswa sebelum eksperimen,
metode angket untuk memperoleh data motivasi belajar siswa dan metode tes
untuk memperoleh data prestasi belajar matematika. Teknik analisis yang
digunakan adalah analisis variansi dua jalan dengan frekuensi sel tak sama.
Sebagai persyaratan analisis adalah uji normalitas dengan metode liliefors pada α
= 5% dan uji homogenitas dengan menggunakan metode Bartlett. Dari hasil
penelitian menunjukkan bahwa: (1) Terdapat pengaruh cara belajar sistem modul
disertai pemberian tugas (Fhitung = 6,657 > Ftabel = 4,001), (2) Terdapat pengaruh
motivasi belajar siswa terhadap prestasi (Fhitung = 10,433 > Ftabel = 3,150), (3)
Tidak terdapat interaksi antara metode pembelajaran dengan motivasi belajar
siswa terhadap prestasi (Fhitung = 0,704 < Ftabel = 3,150). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dimasa sekarang kualitas manusia sangat diperlukan sebagai modal dasar pembangunan, khususnya bagi negara yang sedang berkembang. Negara Indonesia pun memerlukan manusia-manusia yang berkualitas untuk mendukung dan melaksanakan pembangunan nasional. Manusia yang berkualitas sebagai pelaku pembangunan dapat dihasilkan melalui pendidikan. Proses pendidikan pada dasarnya dapat berlangsung di tiga tempat, yaitu lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah. Ketiga lingkungan tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain karena saling berpengaruh dan merupakan satu kesatuan utuh. Untuk itu, pemerintah telah membangun berbagai sarana fisik maupun non fisik guna mencapai tujuan pendidikan nasional. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, maka pembangunan pada bidang pendidikan dilaksanakan dengan peningkatan mutu setiap jenjang dan jenis pendidikan, khususnya untuk mengacu penguasaan ilmu dan teknologi. Upaya peningkatan mutu pendidikan antara lain dengan mengusahakan penyempurnaan proses pembelajaran. Proses pembelajaran berlangsung di sekolah meliputi seluruh aktivitas yang menyangkut pemberian materi pelajaran agar siswa memperoleh kecakapan dan pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan. Sekolah merupakan kelanjutan dari pendidikan 1 2 yang telah dilakukan orang tua di rumah. Berhasil dan tidaknya suatu pendidikan di sekolah tergantung dari pendidikan di dalam keluarga anak selanjutnya. Hasil yang diperoleh dalam keluarga menentukan pendidikan anak tersebut di sekolah ataupun di masyarakat. Peningkatan dan penyempurnaan dalam proses belajar mengajar bertujuan agar siswa memperoleh hasil belajar yang baik atau prestasi belajar yang baik. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran, diantaranya adalah metode mengajar, alat atau sarana belajar, motivasi, minat dan keadaan keluarga. Dalam proses pembelajaran sekarang ini masih banyak kita jumpai guru yang mengajar secara monoton, yaitu hanya menggunakan satu metode saja, misalnya metode konvensional. Padahal belum tentu setiap pokok bahasan suatu materi pelajaran cocok dan efektif diajarkan dengan metode konvensional. Maka tidak mengherankan apabila prestasi belajar siswa cenderung stabil atau bisa semakin turun. Oleh karena itu perlu dicari suatu sistem pengajaran yang membuka kemungkinan besar menaikkan prestasi belajar siswa. Penerapan metode mengajar di sekolah sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Siswa kadang-kadang merasa jenuh dengan penerapan satu jenis metode penyampaian pelajaran yang dipakai oleh seorang guru secara terus menerus sehingga mengakibatkan materi pelajaran yang disajikan tidak dimengerti oleh siswa. Oleh karena itu siswa harus dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran. 3 Sedang macam-macam metode sajian mengajar antara lain, metode ceramah (konvensional), metode latihan siap (drill), metode tanya jawab, metode diskusi, metode demonstrasi, metode pemberian tugas, metode modul, metode karya wisata, dan metode kerja kelompok. Karena metode-metode tersebut mempunyai batasan-batasan yang tidak sama satu dengan yang lain. Diantara berbagai metode pengajaran individual, pengajaran modul termasuk metode paling baru yang menggabungkan keuntungan dari berbagai pengajaran individual lainnya. Dengan metode ini, siswa dapat aktif dalam proses pembelajaran dan siswa dapat belajar sendiri melalui sederetan aktivitas yang telah ditentukan. Siswa yang pandai akan maju terus tanpa harus menunggu siswa yang kurang pandai. Demikian juga siswa yang kurang pandai tidak perlu menggunakan waktu yang sama dengan rekan-rekannya yang pandai untuk memahami suatu konsep. Pengajaran model ini telah dicobakan pada sejumlah sekolah dan hasilnya menunjukkan bahwa pengajaran modul memberi harapan besar untuk mengadakan perbaikan dalam pendidikan baik sekolah dasar, sekolah menengah maupun pendidikan tinggi. Berkaitan dengan belajar matematika, pada dasarnya merupakan belajar konsep, maka yang penting adalah bagaimana siswa dapat memahami konsep- konsep itu. Konsep-konsep dasar matematika merupakan kesatuan yang bulat dan utuh. Untuk itu belajar matematika dituntut lebih terampil dan kreatif dalam menanggapi permasalahan. Dengan demikian belajar matematika tidak hanya mendengarkan guru menerangkan di depan kelas saja, akan tetapi kegiatan belajar matematika dapat mencakup kegiatan di luar jam pelajaran di 4 sekolah. Salah satu bentuk kegiatan tersebut yaitu banyak berlatih mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Suatu bentuk tugas pekerjaan rumah merupakan salah satu alternatif yang diperlukan siswa supaya prestasi belajarnya dapat meningkat. Suatu metode mengajar lain yang sesuai dengan kenyataan di atas adalah metode pemberian tugas atau metode penugasan. Metode ini menempatkan siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kekreatifan dalam pemecahan masalah. Siswa betul-betul ditempatkan sebagai subyek dan obyek dalam belajar serta mempunyai kemampuan dasar untuk secara optimal sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Dengan pemahaman terhadap materi-materi atau konsep matematika yang dipelajari dapat tercapai, maka akan timbul motivasi yang bersamaan dengan proses untuk mencapai keberhasilan belajar matematika. Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang dapat mempengaruhi keberhasilan siswa. Peranannya yang khas adalah dalam menumbuhkan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Siswa yang memiliki motivasi tinggi akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. Hasil belajar itu akan optimal jika ada motivasi yang hanya mempermasalahkan pihak siswa, sebab mungkin saja guru tidak berhasil dalam memberi motivasi yang mampu membangkitkan semangat dan kegiatan siswa untuk belajar. Selain harus mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran, dalam memilih metode mengajar harus berdasarkan pertimbangan perbedaan individu dan faktor-faktor motivasi belajar siswa. Perlu ditekankan bahwa 5 sebenarnya tidak ada metode mengajar yang baik atau yang buruk. Yang ada adalah kecakapan guru dalam memilih dan mempergunakan metode itu di dalam praktek pengajaran. Efektif tidaknya untuk mencapai tujuan pengajaran sangatlah tergantung kepada kemampuan guru. Pemakaian metode yang tepat dapat meningkatkan motivasi belajar pada siswa, sedangkan penggunaan metode yang tidak tepat akan merupakan pernghambat yang paling besar dalam proses pembelajaran. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka diidentifikasikan masalah sebagai berikut : 1. Kurangnya sarana dan prasarana penunjang keberhasilan proses pembelajaran sehingga mempengaruhi cara penyampaian suatu materi pelajaran. 2. Belum optimalnya peningkatan mutu setiap jenjang dan jenis pendidikan sehingga tujuan pendidikan nasional belum dapat terwujud. 3. Belum diterapkannya suatu metode mengajar yang tepat pada proses pembelajaran sehingga siswa cenderung merasa jenuh dengan proses pembelajaran yang monoton. 4. Kurang efektifnya metode yang digunakan guru, karena masih banyak guru yang menggunakan metode konvensional dalam proses pembelajaran. 6 5. Kurangnya motivasi siswa dalam proses pembelajaran sehingga hasil dari proses pembelajaran tersebut belum memuaskan. C. Pembatasan Masalah Dari identifikasi masalah di atas, masalah yang akan penulis teliti dalam penelitian ini terbatas pada pengaruh pengajaran matematika menggunakan metode modul disertai pemberian tugas dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika. Agar analisisnya dapat lebih terarah dan mendalam, maka dalam penelitian ini pemecahannya dibatasi pada : 1. Metode pengajaran yang digunakan adalah metode modul disertai metode pemberian tugas. 2. Modul dalam penelitian adalah bentuk penyajian materi atau bahan pelajaran dengan buku yang menghadapkan siswa pada pemecahan masalah berdasarkan tingkat kecepatan masing-masing siswa. 3. Pemberian tugas yang dimaksud adalah lembaran kertas yang dibagikan guru kepada siswa dan tugas pekerjaan rumah. 4. Perbedaan motivasi siswa mengakibatkan perbedaan prestasi siswa, khususnya pada pelajaran matematika. 7 D. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah dalam penelitian ini, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut : 1. Apakah ada pengaruh proses pembelajaran dengan sistem modul disertai pemberian tugas terhadap prestasi belajar matematika? 2. Apakah ada pengaruh motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika? 3. Apakah ada interaksi antara proses pembelajaran dengan sistem modul disertai pemberian tugas dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika ? E. Tujuan Penelitian Sesuai dengan perumusan masalah, maka tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan pembelajaran dengan sistem modul disertai pemberian tugas akan menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik jika dibandingkan dengan metode konvensional. 2. Untuk mengetahui prestasi belajar matematika siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi akan lebih baik jika dibandingkan dengan siswa yang mempunyai motivasi belajar rendah. 8 3. Untuk mengetahui adanya interaksi antara proses pembelajaran dengan sistem modul disertai pemberian tugas dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika. F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukkan bagi guru dan calon guru untuk meningkatkan prestasi belajar matematika. Dengan menggunakan metode mengajar yang tepat yaitu metode modul disertai pemberian tugas dan dengan memperhatikan tingkat motivasi belajar siswa, diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. 2. Manfaat Praktis Sebagai referensi, bahan pertimbangan dan bahan masukan ataupun acuan untuk meneliti pada pelajaran lain atau permasalahan lain yang penelitiannya sejenis.
Selengkapnya.....

KESULITAN GURU MATEMATIKA SMP NEGERI DAN SWASTA
KECAMATAN KLIRONG KABUPATEN KEBUMEN DALAM
MENGIMPLEMENTASIKAN KURIKULUM 2004

Oleh:ARI ISWATI

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan : 1. Pelaksanaan
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), 2. Kesulitan-kesulitan dalam
pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan cara mengatasinya.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, yaitu studi kasus yang diarahkan
untuk memahami secara menyeluruh suatu kasus tunggal. Sumber data yang
dipergunakan adalah guru yang mengajar kelas VII dan VIII sebanyak 16 orang.
Teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi langsung dan
dokumentasi.
Validitas data dilakukan dengan triangulasi data. Analisis data
dilaksanakan dengan analisis alur. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu (1).
Faktor dalam yang mempengaruhi guru dalam mengimplementasikan Kurikulum
Berbasis Kompetensi (KBK) adalah tingkat gaji yang rendah berakibat kurangnya
semangat dalam menjalankan kewajibannya, persepsi dan pemahaman guru
tentang KBK sangat berpengaruh terhadap keberhasilan dalam menjalankan
pembelajaran yang berkaitan dengan kurikulum dan ketidak sesuaian antara latar
belakang pendidikan guru dengan mata pelajaran yang diampu dapat berakibat
pencapaian sistem pembelajaran tidak maksimal, (2). Faktor luar yang
mempengaruhi guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK) adalah kurangnya informasi yang diterima guru tentang KBK,
sarana dan prasarana pembelajaran yang kurang memadai, lingkungan sekolah
yang tidak mendukung.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam rangka mempersiapkan lulusan pendidikan memasuki era
globalisasi yang penuh tantangan dan ketidakpastian, diperlukan pendidikan
yang di rancang berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan. Untuk kepentingan
tersebut pemerintah memprogramkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
atau (Competency Based Curriculum) sebagai acuan dan pedoman bagi
pelaksanaan pendidikan untuk mengembangkan berbagai ranah pendidikan
(pengetahuan, ketrampilan, dan sikap) dalam seluruh jenjang dan jalur
pendidikan, khususnya pada jalur pendidikan sekolah. Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK) sendiri dapat diartikan seperangkat rencana dan
pengaturan tentang kompetensi yang di bakukan dengan cara pencapaiannya
di sesuaikan dengan keadaan dan kemampuan daerah.
Pendidik (guru) memberikan andil yang sangat besar terhadap
keberhasilan program pendidikan. Pendidik merupakan ujung tombak dari
pelaksanaan pendidikan yang secara langsung berinteraksi dengan peserta
didik. Banyak guru mengeluhkan seringnya terjadi perubahan kurikulum yang
sangat membingungkan mereka dalam pengembangan di sekolah. Mulyani
Sumantri (1994:27), menyatakan bahwa salah satu permasalahan yang di
hadapi dalam pengembangan kurikulum ialah berkenaan dengan komunikasi,
yaitu kurangnya komunikasi di antara para ahli kurikulum dengan para
1
2
pelaksana, yakni guru di sekolah. Hal ini berawal dari pemikiran yang berbeda
sehingga menimbulkan kesulitan dalam melaksanakannya.
Kesulitan guru terhadap penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi
(KBK) sangat di maklumi. Guru yang dulunya melaksanakan kurikulum yang
bersifat sentralistik, sekarang di tuntut untuk melaksanakan kurikulum yang
bersifat desentralistik maka akan mengalami kesulitan dalam menggunakan
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di sekolah.
Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) masih
menyulitkankan guru. Kesulitan terjadi karena persepsi terhadap Kurikulum
Berbasis Kompetensi (KBK) beraneka ragam. Ada guru yang mempunyai
persepsi bahwa Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) sama dengan
program semester, sehingga sekolah yang sudah melaksanakan sistem
semester maka telah mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi
(KBK). Ada guru yang berpendapat Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
sama dengan model Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).
Penurunan kualitas bisa dilihat dari kebiasaan di kalangan pendidik
yang mengukur keberhasilan dari tingkat kelulusan siswa. Salah satu upaya
peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia dilakukan dengan menaikkan
standar nilai keseluruhan dalam Ujian Akhir Nasional (UAN). Pada tahun
2003, standar kelulusan siswa adalah 3,01 dan pada tahun 2004 di naikkan
menjadi 4,01 dengan tujuan memberi tanggung jawab yang lebih besar kepada
semua pihak baik siswa, guru, maupun pemerintah (Depdiknas) untuk
meningkatkan kualitas pendidikan dalam menghadapi era globalisasi dan
3
persaingan mutu lulusan dengan negara Asia lainnya (Solopos, 4 Maret
2004:5 dalam Vindi, 2004:2).
Pencapaian daya serap peserta didik terhadap kurikulum dapat dilihat
dari hasil yang diperoleh Nilai Ujian Nasional rata-rata untuk mata pelajaran
matematika SMP adalah 6,08 dan MTs adalah 6,00. Dari hasil Nilai Ujian
Nasional rata-rata mata pelajaran matematika pada jenis dan jenjang
pendidikan SMP dan MTs Kabupaten Kebumen Tahun Pelajaran 2005/2006
menunjukkan pencapaian tujuan kurikulum yang sudah cukup namun masih
perlu adanya usaha untuk memantapkan dan mengupayakan peningkatannya
(Laporan Analisis dan Evaluasi Pelaksanaan Ujian Nasional Tahun Pelajaran
2005/2006 Dinas P dan K Kabupaten Kebumen).
Pencapaian standar nilai kelulusan terutama matematika dalam Ujian
Akhir Nasional (UAN) dirasa masih sulit dicapai oleh beberapa siswa,
mengingat selama ini matematika dianggap sebagai mata pelajaran yang sukar
dan kurang disukai siswa. Sulitnya meningkatkan hasil pengajaran matematika
tampaknya merupakan gejala global. Menurut Whitney yang dikutip Suryanto
(2003:23) menyatakan bahwa meskipun dilakukan usaha terus menerus, usaha
sekolah untuk membantu murid-murid dalam belajar metematika dengan cara
yang relevan dan bermanfaat selalu saja gagal.
Seorang guru bisa saja melemparkan kesalahan-kesalahan tersebut
kepada siswa, misalnya siswa kurang motivasi, tidak mau belajar keras, tidak
mempunyai kemauan, mudah putus asa, kurang disiplin, dan sebagainya. Ada
yang mencoba mengantisipasi masalah tersebut dan berpendapat bahwa
4
matematika terlalu dini diberikan kepada siswa, sehingga siswa merasa sulit
memahami karena taraf fikir siswa masih konkrit. Kesulitan yang terus
menerus akan menimbulkan sikap antipati dengan matematika. Tidak sedikit
kesalahan dalam pembelajaran matematika dilimpahkan pada kurikulum
matematika dan guru yang melaksanakan kurikulum tersebut dalam kegiatan
belajar mengajar matematika.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis mencoba mendeskripsikan
”Kesulitan Guru Matematika SMP Negeri Dan Swasta Kecamatan Klirong
Kabupaten Kebumen Dalam Mengimplementasikan Kurikulum 2004”.
B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah di atas, maka permasalahan yang terkait
dengan penelitian ini dapat disajikan dalam bentuk pernyataan sebagai berikut
:
1. Masih rendahnya pemahaman guru terhadap Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK).
2. Perangkat penunjang untuk pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi
(KBK) yang masih terbatas.
3. Daya dukung yang masih kurang lengkap.
4. Keterbatasan Sumber Daya Manusia.
C. Pembatasan Masalah
5
Untuk mempermudah memahami serta mempermudah pelaksanaan
penelitian, maka perlu adanya pembatasan masalah sebagai berikut :
1. Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada mata pelajaran
matematika di SMP Negeri dan Swasta Kecamatan Klirong Kabupaten
Kebumen.
2. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru matematika dalam
mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah diatas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini diletakkan pada :
1. Bagaimana pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada
mata pelajaran matematika di SMP Negeri dan Swasta Kecamatan
Klirong Kabupaten Kebumen?
2. Kesulitan-kesulitan apa saja yang dihadapi oleh guru matematika dalam
mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan yang diharapkan dari penilaian ini adalah mendeskripsikan :
1. Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada mata pelajaran
matematika di SMP.
2. Kesulitan-kesulitan dalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi
(KBK) pada mata pelajaran matematika di SMP dan cara mengatasinya.
6
F. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat diperoleh manfaat sebagai
berikut :
1. Dengan mendapatkan informasi mengenai kesulitan guru matematika di
SMP Negeri dan Swasta Kecamatan Klirong Kabupaten Kebumen dalam
mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kurikulum (KBK), maka
pelaksanaan pembelajaran sehubungan dengan pelaksanaan Kurikulum
Berbasis Kompetensi (KBK) dapat diperbaiki.
2. Menambah pemahaman mengenai kesulitan pelaksanaan Kurikulum
Berbasis Kompetensi (KBK) disekolah.
3. Dapat memberikan wawasan bagi guru matematika pada saat
pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Buku Pedoman 2002/2003. Universitas Muhammadiyah Surakarta FKIP. 2002.
Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Djarwanto PS. 1993. Metodologi Riset. Yogyakarta: Liberty.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1997. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Balai Pustaka.
Lexy J. Moleong. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Lukman Hakim. 2004. Metodologi Penelitian. Fakultas Ekonomi Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Margono, S. 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Marzuki. 2002. Metodologi Riset. Yogyakarta: BPFE UII.
Matthew B. Miles & A. Michael Huberman. 1999. Analisis Data Kualitatif.
Jakarta: Universitas Indonesia.
Moh. Uzer Usman. 1994. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Moh.Nazir. 1992. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin,
Nasution, S. 1996. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito.
__________. 2001. Metode Research. Jakarta: Bumi Aksara.
Piet A. Sahertian. 1991. Pokok-pokok Pikiran Mengenai Pendidikan Guru dalam
Mencari Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional Menjelang Abad
XXI. Jakarta: Grasindo.
Raka Joni, T. 1991. Pokok-pokok Pikiran Mengenai Pendidikan Guru dalam
Mencari Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional Menjelang Abad
XXI. Jakarta: Grasindo.
Samana, A. 1994. Profesionalisme Keguruan. Yogyakarta: Kanisius.
Sardiman AM. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
Sugiarto dkk. 2001. Teknik Sampling. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Suharsimi Arikunto. 1993. Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi. Jakarta:
Rineka Cipta.
Tilaar, HAR. 1991. Pendidikan dalam Pembangunan Nasional Menyongsong
Abad XXI. Jakarta: Balai Pustaka.
Undang-undang R.I. No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. 2006. Jakarta:
BP. Cipta Jaya.
Winarno Surakhmad. 1999. Dasar-dasar dan Teknik Research Pengantar
Metodologi Research. Bandung: Tarsito.
Selengkapnya.....

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS
TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)
DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA POKOK
BAHASAN FAKTORISASI SUKU ALJABAR

(Kelas VIII Semester I SMP Negeri 1 Ngemplak Boyolali)
Oleh: NUGROHO TEDI HARYANTO
Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk merancang media pembelajaran berbasis
TIK pada pokok bahasan Faktorisasi Suku Aljabar menggunakan Microsoft
Power Point. (2) Untuk mengetahui aktivitas belajar siswa terhadap matematika
dengan menggunakan Microsoft Power Point pada pembelajaran matematika.
Media ini diujicobakan di SMP Negeri 1 Ngemplak Boyolali tahun ajaran
2006/2007.

Subyek penelitian ini adalah kelas VIII A yang berjumlah 40 siswa.
Metode pengumpulan data dilakukan melalui metode angket, observasi, dan
wawancara. Analisis data pada penelitian ini dilakukan secara deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian dari perancangan media pembelajaran ini cukup membantu guru
dalam proses belajar matematika dan merupakan salah satu alternatif
pembelajaran dikelas yang menarik. Media pembelajaran ini diujicobakan dalam
proses pembelajaran dikelas untuk mengetahui aktivitas belajar siswa. Dari hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa sedang. Dari hasil
penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa media ini dapat diterapkan dalam
proses pembelajaran matematika.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Teknologi informasi dan komunikasi yang pada mulanya adalah alat
hiburan dan alat penyampaian pesan-pesan penerangan, bukan desain untuk
tujuan pembelajaran. Kemudian banyak para ahli melihat potensi yang ada
pada media ini untuk dimanfaatkan bagi pendidikan. Setelah dilakukan
berbagai percobaan dan penelitian, terlihat potensi yang besar dan luas dari
media ini untuk digunakan menjadi alat penyampaian pesan-pesan
pembelajaran.
Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) telah membawa
perubahan pesat dalam kehidupan manusia. Pekerjaan yang dikerjakan oleh
manusia secara manual bisa digantikan oleh mesin. Informasi dan komunikasi
dapat diakses dengan mudah dan cepat sesuai kebutuhan. Dengan demikian
kemajuan IPTEK telah mempengaruhi semua ruang lingkup kehidupan,
termasuk juga dalam dunia pendidikan
Menurut M.J Langeveld (Rubiyanto dkk, 2003:20) pendidikan adalah
kegiatan membimbing anak manusia menuju pada kedewasaan dan mandiri.
Dalam pendidikan terdapat perbuatan belajar baik oleh siswa maupun oleh
guru. Kegiatan belajar menimbulkan terbentuknya kebiasaan yang berupa
1
tingkah laku yang semakin terampil dan efisien. Kegiatan belajar ini bertujuan
untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang permanen dan lebih maju.
Dalam kegiatan pembelajaran matematika, sering ditemui beberapa
kesulitan yang umumnya dimiliki siswa. Diantaranya adalah kesulitan
menghitung dengan cepat, kemampuan logika, ketrampilan menulis atau
menggambar dan rasa malas belajar. Hal ini dikarenakan para siswa
memandang pelajaran matematika adalah pelajaran yang sulit dan
membosankan.
Salah satu faktor yang menyebabkan siswa sering merasa bosan dan
tidak memahami materi pelajaran adalah penyampain materi pelajaran yang
kurang menarik dan kurangnya komunikasi antara guru dan siswa dalam
pembelajaran. Untuk itu perlu dicari solusi yang tepat untuk mengatasi
masalah tersebut.
Guru sebagai pengajar menjadi fokus dalam kegiatan belajar mengajar,
karena peranannya yang sangat menentukan guru harus mampu
mentransformasikan pengetahuan yang dimilikinya kepada siswa. Melalui
proses belajar mengajar guru harus mampu mengetahui kesulitan yang dialami
siswa dan mencari alternatif pemecahannya. Sedangkan sebagai perencana
pengajaran, guru diharapkan mampu merencanakan kegiatan belajar mengajar
secara efektif. Salah satu alternatif yang dapat membuat pembelajaran
matematika lebih menarik dan siswa dapat berperan aktif adalah diciptakannya
suatu media pembelajaran.
Syaiful Bahri (1995:136) menjelaskan didalam kegiatan belajar
mengajar ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan
menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan bahan pelajaran dapat
disederhanakan dengan bantuan media. Media dapat mewakili apa yang
kurang mampu guru ucapkan melalui kata-kata atau kalimat.
Media disini sangat penting untuk menarik siswa untuk mau belajar
dan membuat siswa antusias dengan materi yang diberikan. Ada berbagai
media pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Salah
satunya yaitu dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.
Informasi adalah data yang telah diolah menjadi bentuk yang mempunyai arti
dan bermanfaat bagi manusia. Sedangkan komunikasi adalah penyampaian
pikiran oleh seseorang kepada orang lain melalui media. Media yang berbasis
teknologi dan informasi ini diharapkan mampu memecahkan kesulitan yang
dialami siswa.
Komputer sebagai sarana untuk menyajikan informasi dapat
dimanfaatkan diberbagai bidang. Dalam sektor pendidikan pemanfaatan
komputer sudah berkembang tidak hanya sebagai alat yang hanya
dipergunakan untuk membantu urusan keadministrasian saja, melainkan juga
sangat dimungkinkan untuk digunakan sebagai salah satu alternatif dalam
pemilihan media pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi
Sebagai contoh, dengan adanya komputer multimedia yang mampu
menampilkan gambar maupun tulisan yang diam dan bergerak serta bersuara,
sudah saatnya komputer dijadikan sebagai salah satu alternatif pilihan media
pembelajaran yang efektif dan menarik. Hal semacam ini perlu ditanggapi
secara positif oleh para guru sekolah menengah, khususnya guru bidang studi
matematika
Sebagai media, salah satu manfaat komputer bagi guru adalah dapat
dipergunakan sebagai alat bantu dalam menyiapkan bahan ajar maupun dalam
proses pembelajaran sendiri. Oleh karena itu sudah semestinya para guru
mengetahui manfaat komputer dalam proses belajar mengajar dan mampu
menggunakannya dalam proses belajar mengajar. Dengan kemajuan teknologi
diharapkan guru dapat membuat suatu media pembelajaran berbasis teknologi
informasi dan komunikasi untuk dapat dipergunakan oleh siswa dalam
kegiatan belajar mengajar di sekolah maupun diluar sekolah secara mandiri.
Media ini diharapkan dapat mewakili peranan guru sehingga siswa dapat
belajar dan memperoleh informasi dan dapat berkomunikasi secara tidak
langsung terhadap materi yang sedang dipelajarinya.
Salah satu software yang digunakan untuk membuat media
pembelajaran adalah program Microsoft Powerpoint. Program ini dapat
menampilkan informasi yang berupa tulisan, gambar-gambar, animasi serta
dapat menampilkan suara sehingga siswa dapat berkomunikasi secara tidak
langsung dalam proses belajar mengajar.
Dari latar belakang tersebut diatas, penulis tertarik untuk melakukan
penelitian Media pembelajaran dengan menggunakan Software Microsoft
Powerpoint.
B. Pembatasan Masalah
Agar tidak terjadi perbedaan penafsiran mengenai judul penelitian,
maka penulis membatasi masalah yang akan diteliti. Pembatasan masalah ini
bertujuan agar penelitian yang akan dilakukan dapat tercapai pada sasaran dan
tujuannya. Adapun pembatasan masalah pada penelitian ini adalah sebagai
berikut :
1. Perancangan media pembelajaran matematika menggunakan Microsoft
PowerPoint.
2. Aplikasi Microsoft Powerpoint pada pokok bahasan Faktorisasi Suku
Aljabar kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Semester I.
C. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka pokok
permasalahan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana membuat suatu media pembelajaran berbasis TIK pada pokok
bahasan Faktorisasi Suku Aljabar menggunakan Microsoft Powerpoint?
2. Bagaimana meningkatkan aktivitas belajar siswa dengan menggunakan
Microsoft PowerPoint yang diterapkan dalam proses belajar matemtika?
D. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan permasalahan-permasalahan dalam usaha penelitian
ini, maka tujuan yang akan dicapai adalah sebagai berikut :
1. Untuk merancang media pembelajaran berbasis TIK pada pokok bahasan
Faktorisasi Suku Aljabar menggunakan Mircrosoft Powerpoint.
2. Untuk menggunakan Microsof Powerpoint dalam pembelajaran
matematika.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini memberikan manfaat konseptual utamanya kepada
pembelajaran matematika, disamping itu juga kepada peningkatan mutu
proses dan hasil pembelajaran matematika.
1. Manfaat teoritis
Secara umum hasil penelitian ini diharapkan secara teoritis dapat
memberikan sumbangan kepada pembelajaran matematika utamannya
pada penggunaan media pembelajaran berbasis TIK menggunakan
Microsof PowerPoint pada pokok bahasan Faktorisasi Suku Aljabar.
2. Manfaat praktis
a. Dapat dimanfaatkan oleh guru matematika sebagai media
pembelajaran untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang
menarik
b. Untuk memberikan satu alternatif pemecahan masalah kesulitan siswa
dalam pembelajaran matematika.
F. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari beberapa bagian yaitu sebagai
berikut :
1. BAGIAN AWAL
Bagian ini meliputi Halaman judul, halaman persetujuan, halaman
pengesahan, halaman motto, halaman persembahan, kata pengantar, daftar
isi, daftar tabel, daftar gambar, daftar lampiran dan abstrak.
2. BAGIAN ISI
Bagian ini terdiri dari :
BAB I PENDAHULUAN
Pendahuluan berisi tentang latar belakang masalah, pembatasan masalah,
perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika
penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Landasan teori berisi tentang kajian pustaka dan kajian teori. Kajian pustaka
mengembangkan hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan
penelitian ini. Kajian teori memuat teori-teori dan konsep-konsep yang
relevan atau berkaitan dengan penelitian.
BAB III METODE PENELITIAN
Metode penelitian membahas tentang bahan penelitian, jalan atau alur
penelitian, kebutuhan penelitian dan analisis hasil penelitian.
BAB IV HASIL PENELITIAN
Pembahasan hasil desain media pembelajaran dengan Microsoft powerpoint
BAB V PENUTUP
Bab ini memuat tentang kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini serta
saran untuk pengembangan dan kesempurnaam media pembelajaran.
3. BAGIAN AKHIR
Dalam bagian ini terdiri dari daftar pustaka dan daftar lampiran.
DAFTAR PUSTAKA
Adinawan, M Cholik dan Sugijono. 1999. Seribu Pena Matematika Jilid 2 untuk
SMP Kelas VIII Berdasarkan Kurikulum 2004. Jakarta : Erlangga.
Arief S. Sadirman, R. Rahardjo, Anung Haryono, dan Rahardjito. 2002. “Media
pendidikan”, pengertian, pengembangan, dan pemanfaatannya. Jakarta:
PT. RajaGrafindo Persada.
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitia : Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Arsyad, Azwar. 2003. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo.
Djamerah, Syaiful Bahri dan Zain, Azran. 1999. Stategi Belajar Mengajar.
Jakarta: Rineka Cipta.
Effendi, Onong Uchana. 2001. Ilmu Komunikasi Teori Dan Praktek. Bandung:
Remaja Rosda Karya.
Jogiyanto HM. 2003. Analisis Dan Desain Sistem Informasi Pendekatan
Terstruktur Teori Dan Praktek Aplikasi Bisnis. Yogyakarta: Andi Offset.
Junaedi, Dedi dkk. 1999. Penuntun Belajar Matematika untuk SLTP Jilid 2.
Bandung : Mizan Pustaka.
Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara.
Rubiyanto, Rubino dkk. 2003. Landasan Pendidikan. Surakarta: Muhammaditah
University Prees.
Saryanto, Teguh. 2005. Media Pembelajaran Matematika Berbantuan Komputer.
UMS Skripsi (Tidak Diterbitkan).
Sudjana, Nana. 2001. Media Pembelajaran. Bandung: Sinar Baru Algasindo.
Suharsimi Arikunto. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Bumi Aksara.
Tim Penelitian Dan Pengembangan Wahana Komputer. 2004. Menyusun
Presentasi Dengan Microsoft PowerPoint XP Secara Profesional. Jakarta.
Salemba Infontex.

Selengkapnya.....

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
POKOK BAHASAN PECAHAN MELALUI PENDEKATAN HUMANISTIS

(PTK di SD Karangtalun 02 Tanon)
Oleh :Purwati/A410020002
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan motivasi belajar matematika
siswa dengan menggunakan pendekatan humanistis. Subyek penelitiannya adalah
siswa kelas V SD Negeri Karangtalun 02 Tanon sejumlah 29 siswa. Data
dikumpulkan melalui metode observasi, tes, catatan lapangan, dan dokumentasi.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas bersifat kolaboratif antara
peneliti, guru matematika dan kepala sekolah.

Analisis data secara kualitatif
melalui tiga alur. Data hasil penelitian menyimpulkan terdapat peningkatan
motivasi belajar matematika siswa yang meliputi keaktifan, perhatian dan
kemandirian belajar siswa meningkat mencapai 82,76 %. Disamping itu hasil
belajar siswa juga meningkat mencapai 82,76 %. Kesimpulan penelitian ini adalah
bahwa penerapan pendekatan humanistis dalam pembelajaran matematika
khususnya pokok bahasan bilangan pecahan dapat meningkatkan motivasi belajar
siswa.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya teknologi
informasi sekarang ini telah memberikan dampak positif dalam semua aspek
kehidupan manusia termasuk juga aspek pendidikan. Di satu sisi aspek ini
telah memungkinkan kita untuk memperoleh banyak informasi dengan cepat
dan mudah dari berbagai tempat di dunia, di sisi lain kita tidak mungkin
mempelajari keseluruhan informasi dan pengetahuan yang ada, karena sangat
banyak dan tidak semuanya diperlukan.
Untuk menghadapi tantangan perkembangan teknologi informasi
tersebut dituntut sumber daya yang handal dan mampu berkompetisi secara
global, sehingga diperlukan ketrampilan tinggi, pemikiran kritis, sistematis,
logis, kreatif, dan kemauan bekerja sama yang efektif. Cara berpikir seperti ini
dapat dikembangkan melalui pendidikan matematika. Hal ini sangat
dimungkinkan karena matematika memiliki struktur dengan keterkaitan yang
kuat dan jelas satu dengan lainnya serta berpola pikir deduktif dan konstan.
Pembelajaran adalah suatu proses yang rumit karena tidak sekedar
menyerap informasi dari pendidik, tetapi melibatkan berbagai kegiatan dan
tindakan yang harus dilakukan terutama bila diinginkan hasil belajar yang
lebih baik. Salah satu kegiatan pembelajaran yang menekankan berbagai
kegiatan dan tindakan adalah menggunakan pendekatan tertentu dalam
pembelajaran, karena suatu pendekatan dalam pembelajaran pada hakikatnya
merupakan cara yang teratur dan terpikir secara sempurna untuk mencapai
suatu tujuan pengajaran dan untuk memperoleh kemampuan dalam
mengembangkan aktivitas belajar yang dilakukan oleh pendidik dan peserta
didik. Pendekatan ini mempunyai peran yang sangat penting untuk
menentukan berhasil atau tidaknya pembelajaran yang diinginkan.
Proses pendidikan dalam pembelajaran di sekolah mulai Sekolah Dasar
(SD) sampai Sekolah Menengah Umum (SMU) khususnya di Indonesia pada
era modern sekarang ini masih belum memuaskan, selalu mengalami suatu
produk atau hasil pendidikan yang berkualitas. Berbagai usaha telah dilakukan
pengelola pendidikan untuk memperoleh kualitas dan kuantitas pendidikan
dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa. Adapun kreativitas
pengelola pendidikan termasuk guru yang yang dipersyaratkan yaitu harus
memiliki wawasan pendidikan yang luas, berorientasi ke depan yang selalu
memikirkan inovasi pendidikan apa yang perlu digali, serta dapat memenuhi
harapan dan kebutuhan siswa untuk menyongsong kehidupan di masa
mendatang. Langkah ini merupakan langkah awal untuk meningkatkan
sumber daya manusia.
Matematika sebagai ilmu dasar memegang peranan peranan penting
dalam segala bentuk kehidupan manusia. Dengan kemampuan yang dimiliki
manusia akan membantu proses berpikir dalam melakukan kegiatan sehari-
hari yang dilatarbelakangi matematika.
Namun di sisi lain kita menghadapi kenyataan yang sangat
memprihatinkan terhadap kelanjutan nasib anak bangsa ke generasi
mendatang, misalnya:
1) Banyaknya siswa yang kurang termotivasi untuk mempelajari topik-topik
matematika dan menyelesaikan soal-soal yang ditugaskan guru.
2) Banyaknya siswa yang menjadi was-was menerima pelajaran matematika
dikarenakan trauma terhadap ketidakmampuan belajar matematika pada
kelas yang lebih rendah.
3) Sebagian orang tua mengeluh karena tidak dapat membimbing belajar
anak-anaknya sesuai dengan pendekatan yang diajarkan oleh guru serta
lebih memberi tekanan bahwa matematika adalah pelajaran yang sukar,
sehingga anak kurang mempunyai kepercayaan diri untuk sukses dalam
pelajarannya.
Dari permasalahan-permasalahan di atas, jelaslah bahwa matematika
dalam pandangan orang merupakan sesuatu pengetahuan atau ilmu yang sukar
sehingga menimbulkan phobia di kalangan anak didik. Matematika di sekolah
dasar yang di dalamnya termuat banyak materi termasuk bilangan pecahan,
merupakan salah satu pokok bahasan yang dirasa sukar. Hal ini terjadi selain
karena permasalahan atau uraian di atas juga disebabkan oleh kesalahan dalam
mengajarkan konsep-konsep dasar bilangan pecahan yaitu apabila siswa
Sekolah Dasar masih bersifat terbuka maka masih ada harapan dapat
memperbaiki kesalahan konsep tersebut, namun jika siswa hanya menerima
tidak memberi umpan balik berupa pertanyaan atau mau aktif menjawab
pertanyaan guru mengenai konsep dasar bilangan pecahan maka kesalahan
konsep dasar bilangan pecahan maka kesalahan konsep dasar tersebut akan
dibawa terus sampai pada suatu saat siswa menyadari mendapati konsep dasar
bilangan pecahan yang ia miliki itu keliru.
Menurut Usman dan Setiawati (1993: 9-10) tinggi rendahnya prestasi
belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal yaitu yang berasal dari dalam diri sendiri meliputi
faktor fisiologis dan faktor psikologis. Faktor psikologis antara lain panca
indera yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, berfungsinya kelenjar
tubuh yang membawa kelainan tingkah laku. Sedangkan faktor psikologis
antara lain kecerdasan, bakat, sikap, kebiasaan, minat kebutuhan, motivasi,
emosi dan penyesuaian diri. Faktor eksternal yang berasal dari luar diri siswa
yang berupa lingkungan dan faktor budaya. Faktor tersebut saling berinteraksi
baik secara langsung maupun tidak langsung dalam mempengaruhi prestasi
belajar.
Selain hal-hal tersebut di atas, keberhasilan belajar seseorang tidak
lepas dari motivasi siswa yang bersangkutan. Oleh karena itu pada dasarnya
motivasi belajar merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan
belajar seseorang. Seseorang siswa yang pernah mengalami keberhasilan pada
jenjang pendidikan sebelumnya akan termotivasi untuk terus berusaha secara
maksimal. Upaya tersebut dilakukan untuk mempertahankan prestasinya serta
untuk mencapai hasil yang lebih optimal. Siswa yang telah termotivasi dalam
belajar matematika, ia akan lebih bersemangat dalam mempelajarinya
sehingga menumbuhkan minat belajarnya. Siswa mempunyai minat belajar
yang tinggi akan selalu berusaha mencari, menggali, dan mengembangkan
potensi dasar (bakatnya). Sehingga dapat menumbuhkan rasa percaya diri
serta akan tercipta motivasi belajar matematika yang sangat tinggi. Oleh
karena itu penulis ingin meneliti tentang sistem pembelajaran matematika,
dimana guru memahami dan memperhatikan latar belakang emosi, dorongan,
dan kemampuan individu siswa yang berbeda tingkat intelegensi serta adanya
penyesuaian materi pembelajaran dan tugas belajarnya. Kegiatan
pembelajarannya dengan cara guru melakukan dan memberi kesempatan siswa
seluas-luasnya untuk mengutarakan semua gagasan dan konsepsinya tentang
pokok bahasan bilangan pecahan, kemudian berdiskusi dalam kelompok-
kelompok kecil, dan selanjutnya salah satu siswa perwakilan dari kelompok
kecil tersebut menjelaskan hasil diskusinya di depan kelas. Hal ini disebut
sebagai “Sistem pembelajaran matematika dengan penggunaan pendekatan
humanistis.”
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang di atas, maka
dapat diidentifikasikan permasalahannya dalam pembelajaran matematika
yang menyangkut tentang keberhasilan siswa seperti: anggapan atau
pandangan yang salah terhadap matematika, kemampuan matematika dan
kualitas pengajaran matematika yang rendah, kurangnya kemampuan siswa
memecahkan permasalahan dalam hitung bilangan pecahan, pemilihan
pendekatan pembelajaran matematika yang salah. Perlu disadari bahwa
anggapan atau pandangan yang salah terhadap matematika yaitu menganggap
bahwa matematika adalah sesuatu pengetahuan atau ilmu yang sukar, dapat
menimbulkan phobia di kalangan anak didik dimana anak didik tertanam
perasaan cemas, dan takut jika berhadapan dengan matematika.
Rendahnya motivasi siswa dikarenakan guru dalam menerangkan
materi matematika kurang jelas dan kurang menarik perhatian siswa dan pada
umumnya guru terlalu menarik perhatian siswa dan pada umumnya guru
terlalu cepat dalam menerangkan materi, di samping itu penggunaan
pendekatan pengajaran yang salah, sehingga siswa dalam memahami dan
menguasai materi masih kurang dan nilai yang diperoleh siswa cenderung
rendah.
Dalam pembelajaran matematika khususnya pembelajaran bilangan
pecahan yang dianggap sukar oleh kebanyakan siswa Sekolah Dasar, perlu
melakukan suatu perbaikan pendekatan pembelajaran yang sesuai dan cocok
dengan karakteristik individu siswa yang berbeda-beda agar tercapai
keberhasilan serta motivasi siswa dalam pembelajaran yang diinginkan. Untuk
itu diperlukan profesionalisme guru dalam memilih pendekatan pembelajaran.
Salah satu diantaranya kemungkinan penggunaan pendekatan humanistis
dalam pembelajaran matematika pokok bahasan bilangan pecahan pada siswa
kelas V Sekolah Dasar.
C. Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini lebih efektif, efesien, terarah dan dapat dikaji lebih
mendalam, maka diperlukan pembatasan masalah. Adapun hal-hal yang
membatasi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Rancangan pembelajaran matematika yang akan diterapkan dengan
pendekatan humanistis yaitu pendekatan pembelajaran dengan
menggunakan penekanan pada proses pembentukan suatu konsep dan
memberikan kesempatan luas kepada siswa berperan aktif dalam proses
tersebut.
2. Motivasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika dibatasi
pencapaian keberhasilan penguasaan materi pokok bahasan bilangan
pecahan.
3. Proses pembelajaran matematika dalam menguasai materi pokok bahasan
bilangan pecahan.
D. Perumusan Masalah dan Pemecehan Masalah
1. Perumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang masalah dan identifikasi masalah
penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
“Apakah pembelajaran dengan menggunakan pendekatan humanistis
dapat meningkatkan motivasi belajar siswa?”
2. Pemecahan Masalah
Keberhasilan “Peningkatan motivasi belajar siswa dalam
pembelajaran matematika melalui pendekatan humanistis” pada penelitian
tindakan kelas ini ditentukan dari peningkatan sikap belajar yaitu perasaan
senang, perhatian, konsentrasi, kesadaran, dan kemauan siswa dalam
proses belajar. Tindakan yang dilakukan guru dalam pembelajaran untuk
meningkatkan motivasi siswa adalah: a) Menggunakan pola pembelajaran
dengan kombinasi klasikal, kelompok dan individual, b) Memberitahukan
tujuan pembelajaran, inti materi ajar dan kegiatan yang akan dilakukan, c)
menyampaikan materi ajar secara sistematis dan jelas sesuai dengan
pendekatan humanistis, d) memberi petunjuk langka-langkah pengerjaan
ada setiap soal yang dianggap sulit, e) selalu mengingat siswa untuk
mengulangi materi ajar yang akan dibahas, f) mendorong semangat
belajar siswa agar menumbuhkan motivasi belajar siswa, g) membantu
siswa memperbaiki kesalahannya dengan sikap ramah, simpati, dan
terbuka, h) menciptakan iklim belajar yang kondusif, sehingga mampu
mendorong siswa untuk aktif belajar, i) mendorong siswa untuk saling
belajar dan mengajar dalam suatu kelompok.
E. Tujuan Penelitian
Selajan dengan masalah penelitian yang dikemukakan di atas, tujuan
penelitian ini adalah sebagai berikut:
“Mengetahui motivasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika dengan
pendekatan humanistis”
F. Manfaat Penelitian
Dalam penelitian ini penulis berharap semoga hasil pemilihan dapat
memberikan manfaat konseptual utamanya kepada pembelajaran matematika.
Di samping itu juga kepada penelitian peningkatan mutu proses dan hasil
pembelajaran matematika Sekolah Dasar.
1. Manfaat teoritis
Secara umum hasil penelitian ini diharapkan secara teoritis dapat
memberikan sumbangan kepada pembelajaran matematika Sekolah Dasar,
utamanya pada peningkatan motivasi siswa Sekolah Dasar melalui
penggunaan pendekatan humanistis. Mengingat seorang siswa Sekolah
Dasar merupakan subyek pembelajaran yang mempunyai: cipta, rasa dan
karsa yang mengerti dan menyadari akan keberadaan dirinya, memiliki
budi dan kehendak, memiliki dorongan untuk mengembangkan potensi
pribadinya yang telah mereka miliki sebelumnya untuk digunakan secara
aktif dalam pembentukan konsepsi dan definisi matematika untuk
memenuhi tuntutan tersebut ialah pendekatan humanistis.
2. Manfaat praktis
Dilihat dari segi praktis, penelitian ini memberikan manfaat antara lain:
a. Bagi penulis, untuk mengetahui sejauh mana peningkatan motivasi
siswa setelah dilakukan proses pembelajaran dengan pendekatan
humanistis.
b. Bagi guru matematika, dengan pendekatan humanistis ini digunakan
untuk menyelenggarakan pembelajaran matematika Sekolah Dasar
yang aktif dan kreatif.
c. Bagi siswa, proses pembelajaran dengan pendekatan humanistis ini
dapat meningkatkan kemampuan dan motivasi siswa dalam bidang
studi matematika.
Selengkapnya.....

UPAYA PENINGKATAN MINAT BELAJAR MATEMATIKA
MELALUI PENDEKATAN BELAJAR TUNTAS
(Mastery Learning)

(PTK Pembelajaran Matematika Di Kelas V SD Negeri 1 Guwo)
Oleh:SURADI/A410020006
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan data yaitu usaha-usaha guru
untuk meningkatkan minat belajar siswa tentang, perasaan senang, perhatian,
kemauan, konsentrasi, dan kesadaran siswa terhadap pembelajaran matematika.
Subjek penerima tindakan adalah siswa kelas V SD Negeri 1 Guwo yang berjumlah
26 siswa, subjek pelaksana tindakan adalah guru SD kelas V dan subjek yang
membantu pelaksana adalah peneliti dan kepala sekolah.
Analisis data secara
deskriptif kualitatif dengan presentase dan model alur. Hasil penelitian tindakan
kelas ini adalah :1) usaha meningkatkan minat belajar siswa dilakukan melalui
pembenahan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi belajar, 2) peningkatan minat
belajar siswa tentang; perasaan senang siswa ada peningkatan yaitu sebelum ada
penelitian tindakan siswa yang senang dengan pelajaran matematika sekitar 30,76%
pada putaran I 50,00%, pada putaran II 61,53%, dan pada putaran III 76,92%
perhatian siswa mengalami peningkatan yaitu sebelum ada penelitian tindakan siswa
yang perhatian dalam pelajaran matematika 42,30%, pada putaran I 57,69%, pada
putaran II 73,03%, pada putaran III 80,76%, kemauan siswa ada peningkatan yaitu
sebelum penelitian tindakan siswa yang ada kemauan untuk belajar matematika
23,67%, pada putaran I 38,46%, pada putaran II 65,38%, dan putaran III 73,03%,
konsentrasi siswa mengalami peningkatan yaitu sebelum ada penelitian tindakan
siswa yang konsentrasi dalam pelajaran matematika 19,23%, pada putaran I 46,15%,
pada putran II 57,69%, dan pada putaran III 69,23%, dan kesadaran siswa mengalami
peningkatan sebelum ada penelitian tindakan siswa yang sadar dalam pelajaran
matematika 26,92%, pada putaran I 58,84%, putaran II 61,53%, dan putaran III
88,46%.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu diantara masalah besar dalam bidang pendidikan diindonesia
yang banyak diperbincangkan adalah rendahnya mutu pendidikan yang tercermin
dari rendahnya rata-rata prestasi belajar. Masalah lain dalam pendidikan di
Indonesia yang juga yang banyak diperbincangkan adalah bahwa pendekatan
dalam pembelajaran masih terlalu didominasi peran guru (teacher center). Guru
banyak menempatkan siswa sebagai objek dan bukan sebagai subjek didik.
Pendidikan kita kurang memberikan kesempatan pada siswa Dallam berbagai
mata pelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir holistik
(menyeluruh), kreatif, objektif, dan logis. Belum memanfaatkan quantum
learning sebagai salah satu paradigma menarik dealam pembelajaran, serta
kurang memperhatikan ketuntasan belajar secara individual.
Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak bisa dipisahkan
satu sama lain. Belajar menunjukkan kepada apa yang harus dilakukan seseorang
sebagai penerima pelajaran (siswa), sedangkan mengajar menunjukkan kepada
apa yang harus dilakukan oleh seorang guru yang menjadi pengajar. Jadi belajar
mengajar merupakan proses interaksi antara guru dan siswa pada saat proses
pengajaran. Proses pengajaran akan berhasil, selain ditentukan oleh kemampuan
guru dalam menentukan metode dan alat yang digunakan dalam pengajaran, juga
ditentukan oleh minat belajar siswa.
Rendahnya prestasi belajar siswa dikarenakan guru dalam menerangkan
materi matematika kurang jelas dan kurang menarik perhatian siswa dan pada
umumnya guru terlalu cepat dalam menenrangkan materi pelajaran. Disamping
itu penggunaan metode pengajaran yang salah. Sehingga siswa dalam memahami
dan menguasai materi masih kurang dan nilai yang diperoleh siswa cenderung
rendah. Selain itu faktor-faktor lain yang mempengaruhi kelemahan belajar
matematika kelas V SDN Guwo adalah (1) Siswa tidak mampu menguasai
hubungan antar konsep, (2) Siswa kurang memperhatikan materi yang diberikan
guru, (3) Siswa kurang mengerjakan latihan-latihan soal, (4) Siswa malu bertanya
tentang materi yang belum dimengerti.
Masalah - masalah diatas merupakan masalah – masalah pendekatan
pembelajaran, belum lagi masalah - masalah dari siswa itu sendiri, seperti
kurangnya minat siswa dalam belajar. Terutama pada pelajaran matematika,
mengingat pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang terkenal sulit
dan memerlukan logika berpikir yang tinggi, selain itu juga dikhawatirkan
aktifitas belajar matematika terganggu, jika suasana pembelajaran matematika
tidak menyenangkan.
Pelajaran matematika bagi sebagian besar siswa adalah mata pelajaran
yang sulit, ini merupakan masalah utama yang dihadapi para guru matematika.
Rendahnya minat belajar matematika karena adanya berbagai cap negatif telah
melekat di benak siswa berkenaan dengan pelajaran matematika, yang bisa jadi
itu semua dimunculkan dari guru baik secara langsung maupun tidak langsung,
disadari atau tidak disadari.
Faktor lain yang menyebabkan kecilnya minat siswa terhadap pelajaran
matematika adalah metode maupun pendekatan pembelajaran yang digunakan
oleh guru. Selain itu, pada setiap proses pembelajaran siswa hanya belajar dengan
cara mendengarkan ceramah dan mencatat sehingga proses belajar dikelas terasa
kurang menarik dan membosankan. Kurang menariknya proses pembelajaran
tersebut mengakibatkan berkurangnya minat belajar siswa terutama pada
pelajaran matematika. Pada akhirnya kurangnya pula minat belajar siswa tersebut
menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya prestasi belajar.
Disamping itu diperlukan juga adanya minat belajar matematika yang
tinggi dalam diri para peserta didik.karena minat belajar ini sangat menentukan
sukses atau tidaknya kegiatan seseorang, peningkatan minat belajar matematika
ini sangat diperlukan, mengingt bahwa prestasi belajar pada umumnya meningkat
jika minat belajar bertambah.
Minat belajar merupakan salah satu pengaruh besar terhadap aktivitas
belajar.proses belajar akan berjalan lancer bila disertai dengan minat. Minat
merupakan alat motivasi yang utama yang dapat meningkatkan belajar siswa agar
pelajaran yang diberikan mudah diterima dan dipahami.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2002 : 133) ada beberapa cara yang
dapat dilakukan untuk membangkitkan minat belajar siswa sebagai berikut :
a. Membandingkan adanya suatu kebutuhan pada diri siswa, sehingga dia rela
belajar tanpa paksaan.
b. Menghubungkan bahan pelajaran yang diberikan, dengan persoalan
pengalaman yang dimiliki siswa, sehingga siswa mudah menerima bahan
pelajaran.
c. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendapatkan hasil belajar yang
baik dengan cara menyediakan lingkungan belajar yang kreatif dan kondosif.
d. Menggunakan berbagai macam bentuk dan teknik mengajar dalam konteks
perbedaan individual siswa.
Demikian juga proses pendidikan dalam sistem persekolahan kita,
umumnya belum menerapkan pembelajaran sampai anak menguasai materi
pelajaran secara tuntas akibatnya, tidak aneh bila banyak siswa yang tdak
menguasai materi pelajaran,meskipun sudah dinyatakan tamat dari sekolahan
tidak heran pula, kalau mutu pendidikan secara nasional masih rendah.sistem
persekolahan yang tidak memberikan pembelajaran secara tuntas, ini telah
menyebabkan pemborosan anggaran pendidikan.
Salah satu cara untuk meningkatkan minat siswa dalam pembelajaran
matematika adalah melalui pendekatan belajar tuntas (mastery learning).untuk
dapat melksanakan pembelajaran matematika dengan pendekatan belajar tuntas
untuk meningkatkan minat siswa, perlu adanya kerja sama antara guru
matematika dan peneliti yaitu melalui penelitian tindakan kelas (PTK). Proses
PTK ini memberikan kesempatan kepada peneliti dan guru matematika untuk
mengidentifikasi masalah – masalah pembelajaran disekolah sehingga dapat
dikaji, ditingkatkan dan dituntaskan.dengan demikian proses pembelajaran
matematika disekolah yang menerapkan pembelajaran dengan melalui
pendekatan belajar tuntas, diharapkan dapat meningkatkan minat belajar siswa
dan prestasi belajar matematika siswa.
B. Perumusan dan Pemecahan Masalah
1. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah diatas ,maka
permasalahan umum yang dicari jawabannya melalui penelitian ini
dirumuskan :
a. Bagaimana proses pembelajaran matematika dengan pendekatan belajar
tuntas (mastery learning) dilakukan oleh guru untuk meningkatkan minat
belajar siswa ?
b. Apakah ada peningkatan minat belajar siswa selama proses pembelajaran
matematika melalui pendektan belajar tuntas ?
2. Pemecahan Masalah.
Keberhasilan “Peningkatan Minat dalam Pembelajaran Matematika”
pada PTK ini ditentukan dari peningkatan sikap belajar yaitu perasaan
senang, perhatian, konsentrasi, kesadaran, dan kemauan siswa dalam proses
belajar. Tindakan guru dalam pembelajaran untuk meningkatkan minat
belajar siswa adalah: a). Menggunakan pola pembelajaran dengan kombinasi
klasikal, kelompok, dan individual, b) Memberitahukan tujuan pembelajaran
inti materi ajaran kegiatan yang akan dilkukan, c) Menyampaikan materi ajar
secara sistematis dan jelas sesuai dengan pendekatan belajar tuntas, d)
Memberikan petunjuk dan langkah – langkah pengerjaan pada setiap soal
yang dianggap sulit, e) Selalu mengingatkan siswa untuk mengulangi materi
ajar yang akan dibahas, f) Mendorong semangat belajar siswa agar
menumbuhkan minat belajar, g) Menciptakan iklim yang kondusif, sehingga
mampu mendorong siswa untuk aktif belajar, h) Mendorong siswa untuk
saling belajar dan mengajar dalam suatu kelompok.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : 1) untuk
mendiskripsikan bagaimana proses pembelajaran matematika pada sub pokok
bahasan volume dengan pendekatan belajar tuntas (mastery learning), 2) untuk
meningkatkan minat belajar siswa yang dibatasi oleh perasaan senang, perhatian,
kemauan, konsentrasi dan kesadaran siswa dalam pembelajaran matematika.
D. Manfaat Penelitian
Sebagai penelitian tindakan kelas, penelitian ini memberikan manfaat
konseptual utamanya pada pembelajaran, disamping itu juga kepada penelitian
minat belajar siswa dan hasil pembelajaran matematika.
1. Manfaat Teoritis.
Secara umum hasil penelitian diharapkan secara teoritis dapat
memberikan sumbangan kepada pembelajaran matematika, utamanya pada
peningkatan minat belajar siswa melalui pendekatan belajar tuntas dalm
pembelajaran matematika.
Mengingat pentingnya pendekatan belajar tuntas dalam pembelajaran
metematika dan peranannya cukup besar bagi siswa dalam hal
menumbuhkan minat belajar matematika, oleh karenanya wajar jika guru
mempunyai keyakinan untuk menerapkannya pada pembelajaran matematika.
Secara khusus, penelitian ini memberikan kontribusi pada strategi
pembelajaran mmatematika berupa pergeseran dan pembelajaran yang hanya
mementingkan hasil kepembelajaran yang juga mementingkan prosesnya,
karena dalam pembelajaran KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi)
disarankan untuk menggunakan paradigama belajar yang menunjukkan
kepada proses untuk meningkatkan hasil.
2. Manfaat Praktis.
Pada manfaat praktis, penelitian ini memberikan sumbangan bagi guru
matematika dan siswa. Bagi guru matematika, belajar tuntas dapat digunakan
untuk menyelenggarakan pembelajaran yang inovatif dan kreatif.Bagi siswa,
proses pembelajaran ini dapat meningkatkan minat belajar dan prestasi
belajar siswa dalam bidang matematika.
Ahmad Rohani, Abu Ahmadi. 1991. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakart:Rineka Cipta.
1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakart: Rineka Cipta.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Margono. 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Moedjiono, Dimyati. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Moeleong. 1990. Metodologi Penelitian. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Muhibbin Syah. 1995. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Riyadi, Slamet. 2005. Pengaruh Pendekatan Masalah Terhadap Prestasi Belajar
Matematika Di Tinjau Dari Minat Belajar Siswa. Surakarta: UMS (tidak
dterbitkan).
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Rohani, Abu Ahmadi. 1991. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakart:
Rineka Cipta.
1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakart:
Rineka Cipta.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Margono. 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Moedjiono, Dimyati. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Moeleong. 1990. Metodologi Penelitian. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Muhibbin Syah. 1995. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Riyadi, Slamet. 2005. Pengaruh Pendekatan Masalah Terhadap Prestasi Belajar
Matematika Di Tinjau Dari Minat Belajar Siswa. Surakarta: UMS (tidak
dterbitkan).
Suryanti, Tri Enik. 2004. Eksperimentasi Pengajaran Matematika Dengan
Menggunakan Media Pembelajaran Di Tinjau Dari Minat Belajar Siswa.
Surakarta : UMS (tidak diterbitkan).
Sutama. 2000. Peningkatan Efektivitas Belajar Matematika Melalui Pembenahan
Gaya Belajar Guru Di SLTP Negeri 18 Surakarta. Tesis Magister PPS.
UNY (tidak diterbitkan)
Suwasih Madya. 1994. Panduan Penelitian Tindakan. Yogyakarta: Lembaga
Penelitian IKIP Yogyakarta.
Syaiful, Sagala. 1990. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: CV.
ALFABETA.
Tim. 2004. Pedoman Penulisan Skripsi. Surakarta : UMS
Wasty Sumanto. 1995.Psikologi Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Selengkapnya.....

PENGARUH MINAT BELAJAR DAN SOSIAL EKONOMI
ORANG TUA TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA
SISWA KELAS 1 SMK MUHAMMADIYAH 3 GEMOLONG
TAHUN AJARAN 2006/2007

Oleh :RIKA DINIAWATI. S/A410020008
Abstrak
Penelitian bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh minat belajar dan sosial
ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar matematika, (2) pengaruh minat
belajar terhadap prestasi belajar matematika, (3) pengaruh sosial ekonomi orang
tua terhadap prestasi belajar matematika. Penelitian dilakukan dengan metode
kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas I SMK
Muhammadiyah 3 Gemolong tahun ajaran 2006/2007 yang terdiri dari 5 kelas
dengan jumlah siswa 210 orang.
Sampel dalam penelitian ini sebanyak 50 siswa
diperoleh dengan menggunakan teknik simple random sampling. Teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi untuk
memperoleh data nama-nama siswa dan data prestasi belajar matematika siswa,
metode angket untuk memperoleh data minat belajar siswa dan sosial ekonomi
orang tua. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier ganda
yang sebelumnya dilakukan uji normalitas, uji linieritas dan multikolinieritas.
Hasil penelitian pada taraf signifikan menunjukkan bahwa (1) terdapat pengaruh
minat belajar dan sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar matematika
dengan Fhitung = 7,760, (2) ada pengaruh minat belajar terhadap prestasi belajar
matematika dengan thitung = 2,497, (3) ada pengaruh sosial ekonomi orang tua
terhadap prestasi belajar matematika dengan thitung = 2,242. Sumbangan efektif
untuk minat sebesar 13,5% dan besar sumbangan sosial ekonomi orang tua adalah
11,3%. Jadi kesimpulannya minat belajar mempunyai pengaruh lebih dominan
terhadap prestasi belajar matematika jika dibandingkan dengan sosial ekonomi
orang tua.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kemajuan ilmu dan teknologi berpengaruh pada semua aspek kehidupan
termasuk pendidikan. Penyelenggaraan sistem pendidikan di Indonesia tentu akan
menyesuaikan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, dengan harapan dapat
lebih meningkatkan Sumber Daya Manusia Indonesia.
Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia.
Dengan pendidikan diharapkan mampu menghasilkan manusia yang selain
menguasai ilmu pengetahuan dan ketrampilan, juga berbudi pekerti yang luhur,
berkepribadian kuat, berdisiplin, bekerja keras, mandiri, kreatif, penuh
tanggungjawab serta mampu menghadapi permasalahan dengan sikap terbuka
dan berpandangan jauh ke depan.
Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia dapat dilaksanakan melalui
tiga jalur yaitu pendidikan informal, pendidikan formal dan pendidikan non
formal. Pendidikan informal yaitu jenis pendidikan yang tidak terencana secara
jelas dan tidak sistematis, dilaksanakan di luar sekolah terutama di dalam
lingkungan keluarga, pendidikan formal yaitu pendidikan yang diselenggarakan
di sekolah melalui kegiatan belajar mengajar secara berjenjang dan
berkesinambungan, sedangkan jalur pendidikan non formal yaitu pendidikan
2
yang diselenggarakan dan dilaksanakan di luar sekolah melalui kegiatan belajar
mengajar yang tidak harus berjenjang dan berkesinambungan.
Sekolah sebagai lembaga yang menyelenggarakan pendidikan formal
mempunyai peranan yang sangat besar dalam usaha mendewasakan anak dan
menjadikan anak sebagai anggota masyarakat yang cerdas. Dalam proses belajar
terlihat adanya rangkaian kegiatan menyeluruh, menyangkut berbagai faktor,
sehingga berhasil atau tidak proses belajar mengajar tergantung dari faktor-
faktor yang mempengaruhinya.
Dalam proses belajar terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
prestasi belajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dibedakan
menjadi dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal
adalah segala faktor yang besumber dari diri dalam diri siswa, yang antara lain
adalah kemampuan awal, minat, bakat, usia dan sebagainya. Sedangkan faktor
eksternal adalah segala faktor yang bersumber dari luar diri siswa, yang antara
lain adalah lingkungan, sosial, ekonomi dan sebagainya. Jadi tidak ada faktor
tunggal yang berdiri sendiri secara otomatis menentukan prestasi belajar
seseorang. Beberapa masalah yang berkaitan dengan prestasi belajar seseorang
antara lain: tingkat kecerdasan, minat, bakat, motivasi, dukungan orang tua dan
masih banyak lagi masalah yang berkaitan dengan prestasi belajar siswa.
Menyikapi dari uraian di atas kalau dirasakan untuk sekarang ini masih
terasa kesenjangan, seperti fenomena anak didik dari keluarga yang kurang
mampu. Mereka punya kelebihan tapi tidak bisa tersalurkan, mereka punya minat
3
belajar yang besar tapi tidak ada biaya, kadang dukungan dari orang tuapun tidak
ada. Sehingga mereka berusaha membangun jiwanya sendiri dengan
membangkitkan minat dalam dirinya sendiri. Minat tidak timbul secara tiba-tiba
atau spontan, melainkan timbul akibat dari partisipasi, pengalaman dan
kebiasaan pada waktu belajar. Oleh karena itu yang penting bagaimana
menciptakan kondisi tertentu agar siswa selalu merasa memerlukan dan ingin
terus belajar.
Dikaitkan dengan studi matematika, siswa pada umumnya beranggapan
bahwa mata pelajaran matematika itu sulit. Asumsi seperti itu dapat merugikan
siswa yang kurang senang terhadap pelajaran matematika. Siswa yang pesimis
terhadap pelajaran matematika menyebabkan siswa tidak mempunyai semangat
untuk mempelajari matematika, sehingga dalam mempelajarinya akan dirasakan
sulit dan mengakibatkan nilai yang diperoleh jelek. Sehingga siswa cenderung
tidak mempunyai minat terhadap pelajaran matematika.
Selain faktor tersebut, salah satu faktor eksternal yang termasuk dalam
lingkungan adalah faktor keluarga. Hal ini berkaitan dengan tanggung jawab
terjawab tercapainya tujuan pendidikan bukan hanya sekolah tetapi juga keluarga,
khususnya orang tua. Di dalam keluarga anak akan mendapat pendidikan yang
pertama serta mengalami perubahan sosial, dan mengenal lingkungan. Menurut
Zamroni (2000:48), faktor orang tua dalam keberhasilan belajar anak sangat
dominan. Faktor orang tua itu dapat dikategorikan ke dalam dua variabel yaitu
variabel struktural yang berupa status sosial ekonomi dan variabel proses yang
4
berupa perilaku orang tua dalam memberikan perhatian dan bantuan kepada
anaknya dalam belajar. Hal ini juga didukung oleh pendapat Mahmud (1990:40),
yang menyatakan bahwa status sosial ekonomi orang tua menentukan jenis dan
pengalaman yang tersedia untuk perkembangan potensi anak. Sehingga status
sosial ekonomi orang tua mempunyai peran yang sangat besar dalam
meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini berkaitan dengan pemenuhan
kebutuhan hidup termasuk pendidikan beserta fasilitas-fasilitas yang diperlukan.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat didefinisikan
perumusan masalah sebagai berikut :
1. Setiap siswa mempunyai minat yang berbeda-beda, sehingga dengan adanya
minat belajar yang tinggi dimungkinkan akan dapat meningkatkan prestasi
belajar matematika.
2. Keadaan sosial ekonomi orang tua berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan,
termasuk biaya serta sarana dan prasarana belajar sebagai faktor pendukung
siswa dalam belajar dimungkinkan akan mempengaruhi prestasi belajar
siswa.
3. Adanya pengaruh antara minat belajar dan keadaan sosial ekonomi orang tua
dimungkinkan dapat mendorong siswa untuk lebih baik dalam pencapaian
hasil belajar matematika.
5
C. Pembatasan Masalah
Pada penelitian ini permasalahan difokuskan pada prestasi belajar
matematika, sedangkan prestasi belajar matematika dipengaruhi oleh banyak
faktor, dan pada kesempatan ini faktor-faktor yang akan peneliti teliti adalah
minat belajar matematika siswa dan sosial ekonomi orang tua.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan pembatasan
masalah, peneliti merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apakah ada pengaruh minat belajar dan sosial ekonomi orang tua terhadap
prestasi belajar matematika?
2. Apakah ada pengaruh minat belajar terhadap prestasi belajar matematika?
3. Apakah ada pengaruh sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar
matematika?
E. Tujuan Penelitian
Dalam suatu kegiatan, tujuan merupakan hal yang sangat penting dan
menentukan arah dari kegiatan tersebut. Begitu pula dalam penelitian, tujuan
merupakan pedoman dalam melakukan penelitian.
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah :
6
1. Untuk mengetahui pengaruh minat belajar terhadap prestasi belajar
matematika.
2. Untuk mengetahui pengaruh sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi
belajar matematika.
3. Untuk mengetahui pengaruh minat belajar dan sosial ekonomi orang tua
terhadap prestasi belajar matematika.
F. Manfaat Penelitian
Dengan diadakan penelitian ini, diharapkan dapat memberikan manfaat
sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
a. Memberikan masukan yang dapat digunakan sebagai upaya peningkatan
prestasi belajar matematika
b. Memberikan sumbangan penelitian dalam pendidikan yang ada kaitannya
dengan masalah prestasi belajar matematika
2. Manfaat Praktis
a. Memberikan masukan kepada guru untuk menentukan prioritas bantuan
kepada siswa yang sosial ekonomi orang tuanya rendah
b. Bagi siswa agar lebih meningkatkan belajar, sehingga akan membantu
dalam pencapaian prestasi belajar matematika yang memuaskan
c. Memberikan masukan kepada peneliti selanjutnya, serta hasil penelitian
ini dapat dijadikan sebagai tinjauan teori

Selengkapnya.....

MODEL PEMBELAJARAN TERPADU SEBAGAI USAHA
MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA PADA
PEMBELAJARAN MATEMATIKA

(PTK Pembelajaran Matematika Kelas VI SD Negeri Buran 01 Tasikmadu)
Oleh:IIS SUPRIYANTI/A410020048
Abstrak
Penelitian ini bertujuan: 1) Mendiskripsikan model pembelajaran terpadu
dalam proses pembelajaran matematika, 2) Meningkatkan kemampuan kognitif siswa
melalui model pembelajaran terpadu. Subyek pemberi tindakan adalah guru kelas VI
sejumlah 16 siswa, subyek yang membantu pelaksanaan adalah kepala sekolah dan
peneliti sebagai subyek yang melakukan perencanaan, pengumpulan data, analisis
data, dan penarikan kesimpulan. Data dikumpulkan melalui metode observasi, catatan
lapangan, review dan dokumentasi.
Analisis data secara diskriptif kualitatif dengan
analisis interaktif. Hasil penelitian menyimpulkan: 1) Proses pembelajaran terpadu: a.
Guru melaksanakan apersepsi dengan cara memancing siswa dengan menanyakan
dan memberikan masalah-masalah sehingga siswa dapat mengeluarkan ide-idenya; b.
Siswa belajar kelompok, guru memfasilitasi dan memberikan batasan diskusi; c.
Siswa mempresentasikan dan menyimpulkan hasil temuan siswa; d. Guru
memantapkan dan memberikan kesimpulan dari hasil temuan siswa; e. guru
memberikan penilaian, 2) Terdapat peningkatkan kemampuan kognitif siswa pada
pembelajaran matematika dilihat dari keaktifan, kemandirian, dan kreatifitas, yaitu
pada putaran I keaktifan sebanyak 2 siswa, kemandirian sebanyak 4 siswa, kreatifitas
sebanyak 2 siswa, pada putaran II keaktifan sebanyak 3 siswa, kemandirian sebanyak
6 siswa, kreatifitas sebanyak 4 siswa, pada putaran III keaktifan sebanyak 5 siswa,
kemandirian sebanyak 9 siswa, kreatifitas sebanyak 6 siswa. Kesimpulan penelitian
ini adalah bahwa penerapan model pembelajaran terpadu pada proses pembelajaran
matematika dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa dilihat dari keaktifan,
kemandirian, dan kreatifitas siswa.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada peradaban modern yang makin berkembang pesat sekarang ini, negara
kita mengalami persaingan yang luar biasa dalam berbagai kehidupan. Dalam
persaingan tersebut sumber daya manusia sangat diprioritaskan, terutama manusia
yang mampu bertahan (survive) dan bersaing dalam hidup. Berkembangnya suatu
peradaban identik dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ( iptek )
serta informasi. Sehingga tidak heran lagi informasi yang ditopang dengan
teknologi itu menjadi arus deras merasuk ke dalam berbagai segi kehidupan.
Hingga kini iptek itu sendiri berubah menjadi standar bagi kualitas kehidupan
manusia. Kemajuan iptek ini tidak lepas dari perubahan yang ada dalam
pendidikan. Karena pendidikan memberikan kontribusi yang sangat besar
terhadap kemajuan suatu bangsa, dan merupakan sektor yang penting dalam
pengembangan sumber daya manusia. Oleh karena itu, dalam menjawab
tantangan perkembangan zaman, pemerintah selalu berusaha meningkatkan
kualitas dan kuantitas pendidikan.
Dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan Indonesia
yang makin memburuk dengan fenomena lulusan yang kurang baik, pemerintah
telah merumuskan kurikulum pendidikan yang dapat menentukan kompetensi
lulusan yang baik. Kompetensi lulusan tersebut telah dijabarkan berdasarkan
fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Pada Bab II Pasal 3 Undang-undang
Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
dijelaskan bahwa :
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreaktif,
mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggungjawab.”( Kurikulum 2004 SMP, 2005 : 3 ).
Kurikulum pendidikan sekarang yang telah dirumuskan oleh pemerintah
memiliki konsep pendekatan pembelajaran yang berbeda dengan kurikulum 1994,
yaitu berbasis kompetensi dimana fokus program sekolah adalah para siswa serta
apa yang dikerjakan oleh siswa dengan memperhatikan kecakapan hidup ( life
skill ) dan pembelajaran terpadu.
Matematika merupakan sarana untuk membantu melatih pola pikir semua
siswa agar dapat memecahkan masalah dengan kritis, logis, cermat dan tepat. Di
samping itu juga agar siswa terbentuk kepribadiannya serta terampil
menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan
tujuan pembelajaran matematika di sekolah yaitu memberi tekanan pada penataan
nalar, pembentukan sikap serta ketrampilan dalam menerapkan matematika.
Matematika juga merupakan sarana berpikir untuk menuju perkembangan iptek.
Hal ini sesuai pengertian matematika adalah : ratu ilmu(mathematics is the
queen), maksudnya antara lain ialah matematika itu tudak tergantung kepada
bidang studi lain ; bahasa, dan agar dapat difahami orang drngan tepat kita harus
menggunakan simbol dan istilah yang cermat yang diseoakati secara bersama.
Ilmu deduktif yang tidak menerima generalisasi yang didasarkan kepada
observasi(induktif) tetapi generalisasi yang didasarkan kepada pembuktian secara
deduktif ; ilmu tentang pola keteraturan ; ilmu tentang struktur yang terorganisasi
mulai dari unsur yang tidak didefinisikan ke unsur yang didefinisikan , ke
aksioma , postulat dan akhirnya ke dalil dan matematika adalah pelayan ilmu.
(Russeffendi , 1991 : 260-261 )
Dalam proses pembelajaran, banyak kita jumpai masalah-masalah baik
yang berasal dari diri siswa maupun yang berasal dari luar diri siswa. Faktor yang
berasal dari diri siswa ( internal ) meliputi motivasi, minat, bakat, keadaan fisik,
intelegensi , cita-cita,dan sebagainya. Sedangkan dari luar diri siswa (eksternal )
meliputi metode mengajar yang kurang tepat, situasi belajar yang tidak
menunjang proses berpikir, alat atau sumber belajar yang kurang memadai,
keadaan atau kondisi keluarga, dan sebagainya. Adanya masalah-masalah tersebut
dapat menyebabkan hasil belajar tidak sesuai dengan kemampuan kognitif yang
dimiliki siswa.
Pada saat ini, masih kita jumpai guru-guru dalam proses pembelajaran
matematika menggunakan metode strategi yang aktivitasnya sepihak misalnya
metode ceramah. Bahkan dalam penyampaian informasi, fakta-fakta dalam
metode ceramah yang digunakan hanya berkualitas rendah, sehingga
pembelajaran matematika hanya sekedar merekam informasi belaka. Metode
ceramah ini memiliki kelemahan, diantaranya guru tidak dapat memberikan
bimbingan individu anak,sebab guru tidak dapat mengetahui kesukaran yang
dihadapi masing-masing anak. Sehingga dalam proses pembelajaran matematika
guru dituntut untuk mencari variasi mengajar yang tepat agar prestasi belajar
matematika dapat meningkat.
Dalam pengembangan variasi mengajar tidak boleh sembarangan tetapi ada
tujuan yang hendak dicapai yaitu meningkatkan dan memelihara perhatian siswa
terhadap relevansi proses pembelajaran, memberikan kesempatan berfungsinya
motivasi dan minat, membentuk sikap positif terhadap guru dan sekolah, memberi
kemungkinan pilihan dan fasilitas belajar individual dan mendorong siswa untuk
belajar. Inti pokok pembelajaran adalah siswa yang belajar. Belajar dalam arti
perubahan dan peningkatan kemampuan afektif, psikomotorik dan paling utama
kemampuan kognitif siswa untuk memperoleh prestasi belajar yang tinggi.
Kemampuan kognitif siswa merupakan kesanggupan siswa untuk
mengerjakan soal-soal matematika yang bertujuan pada keenam aspek kognitif,
seperti pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesa dan evaluasi.
Kognitif merupakan suatu proses dan produk pikiran untuk mencapai
pengetahuan yang berupa aktivitas mental seperti menyimbolkan, mengamati,
mengingat, mengkategorikan, menimbang , memecahkan masalah, berpikir,
berfantasi dan belajar.(Jean Piaget,1988:76-77). Perkembangan kognitif sendiri
adalah perkembangan fungsi intelek atau proses perkembangan kemampuan atau
kecerdasan otak siswa. Bekal dan model dasar perkembangan manusia, yakni
kapasitas motorik dan sensorik, kapasitas ini juga dipengaruhi oleh aktivitas ranah
kognitif. Kemampuan ranah kognitif berkaitan dengan pengetahuan kemampuan
berfikir dan ketrampilan memecahkan masalah. Kemampuan kognitif juga erat
hubungannya dengan pretasi belajar matematika. Tanpa ranah kognitif, sulit
dibayangkan seorang siswa dapat berpikir, karena tanpa kemampuan berpikir
mustahil siswa tersebut dapat memahami dan meyakini kaidah- kaidah materi
pelajaran yang disajikan padanya. Upaya pengembangan secara terarah, baik dari
orang tua maupun oleh guru sangat penting. Tapi dalam kenyataannya guru tidak
memperhatikan kemampuan kognitif siswa tersebut sehingga prestasi belajar
matematika cenderung menurun.
Dari gambaran permasalahan di atas menunjukkan bahwa pembelajaran
matematika perlu diperbaiki oleh guru agar kemampuan dan prestasi belajar siswa
meningkat. Usaha tersebut diawali dengan meningkatkan kemampuan kognitif
siswa yang dalam hal ini dibatasi pada keaktifan, kreaktifitas dan kemandirian
siswa dalam pembelajaran. Misalnya mengajukan pertanyaan, mengerjakan tugas
yang diberikan oleh guru, dan sebagainya. Mengingat pentingnya matematika,
dalam pembelajaran matematika idealnya usaha ini dimulai dari pembenahan
proses mengajar yang dilakukan oleh guru yaitu dengan menawarkan suatu
pendekatan yang dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa khususnya pada
pembelajaran matematika di SD. Salah satu pendekatan yang tepat untuk
meningkatkan kemampuan kognitif siswa yaitu dengan menerapkan model
pembelajaran terpadu.
Menurut Toto Cholik, dkk ( 2001 : 2 ) ciri utama dari perkembangan anak
SD adalah bersifat holistik, perkembangan bersifat terpadu dan aspek
perkembangan yang satu terkait erat dan mempengaruhi aspek perkembangan
yang lain. Dalam hal ini perkembangan fisik tidak dapat dipisahkan dari
perkembangan mental, sosial dan emosional ataupun sebaliknya, dengan
perkembangan itu akan terpadu dengan pengalaman, kehidupan dan lingkungan.
Dari pernyataan diatas maka model pembelajaran yang tepat dan mengacu
pada perkembangan anak SD adalah Model Pembelajaran Terpadu. Model
pembelajaran ini memiliki ciri-ciri berpusat pada anak (child centered),
memberikan pengalaman langsung pada anak, pemisahan antara bidang studi
tidak jelas, menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam suatu proses
pembelajaran, bersifat luwes, dan hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai
dengan minat dan kebutuhan anak ( Toto Cholik, dkk 2001 : 8 ) yang nantinya
menciptakan pembelajaran yang efektif. Model pembelajaran terpadu itu sendiri
adalah suatu konsep atau pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa
mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna pada siswa.
Misalnya perpaduan antara dua bidang studi yaitu bidang studi matematika dan
bahasa Indonesia. Kedua bidang studi ini mempunyai keterkaitan yang sangat
erat. Salah satu tujuan umum pelajaran matematika adalah siswa memiliki
kemampuan menggunakan matematika sebagai alat komunikasi. Komunikasi
merupakan suatu hal yang penting bagi terselenggaranya kelompok sosial. Untuk
dapat berkomunikasi dengan anggota suatu kelompok sosial diperlukan bahasa.
Dengan bahasa seseorang dapat mengungkapkan perasaan, menyampaikan ide
dan keinginannya pada orang lain serta menyambung pemikirannya.
Dalam satu bidang studi berbagai ketrampilan yang dapat dicapai sekaligus.
Sebagai contoh, bidang studi matematika dapat menumbuhkan ketrampilan
berpikir di sini adalah kreativitas berpikir siswa dalam menyelesaikan suatu
persoalan khususnya persoalan matematika.
Dari uraian yang dipaparkan di atas, maka peneliti terdorong untuk
melakukan penelitian tentang usaha meningkatkan kemampuan kognitif siswa
melalui model pembelajaran terpadu dalam proses pembelajaran matematika.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan asumsi tahap perkembangan kognitif siswa SD, maka
permasalahan penelitian ini dirumuskan : “ Apakah dengan menerapkan model
pembelajaran terpadu dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa dalam
proses pembelajaran matematika? “
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan :
Mendiskripsikan model pembelajaran terpadu dalam proses pembelajaran
matematika.
Meningkatkan kemampuan kognitif siswa melalui model pembelajaran terpadu.
D. Manfaat Penelitian
Sebagai penelitian tindakan kelas, penelitian ini memberikan manfaat
utamanya kepada pembelajaran matematika, di samping itu juga kepada
penelitian usaha meningkatkan kemampuan kognitif siswa melalui model
pembelajaran terpadu :
1. Manfaat Teoritis
Secara umum penelitian ini diharapkan secara teoritis mampu memberikan
kontribusi terhadap pembelajaran matematika terutama usaha meningkatkan
kemampuan kognitif siswa melalui model pembelajaran terpadu.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi siswa, model pembelajaran terpadu dapat digunakan sebagai media
untuk memahami konsep-konsep matematika yang sifatnya abstrak.
b. Bagi peneliti dan calon guru sehingga dapat mempersiapkan diri dalam
mengantisipasi masalah-masalah yang akan dihadapi untuk terjun ke
dunia pendidikan.
c. Bagi guru dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk mengatasi
masalah pembelajaran matematika dengan cara melakukan inovasi dalam
pembelajaran.
d. Bagi peneliti berikutnya dapat dijadikan sebagai bahan pembanding atau
dikembangkan lebih lanjut serta sebagai referensi terhadap penelitian
yang relevan dengan permasalahan yang sejenis.
DAFTAR PUSTAKA
Asa, Mumtahinah M. 2004. Upaya Peningkatan Efektifitas Pembelajaran
Metematika Pada Siswa Kelas III SD Negeri Pabelan Kartasura Melalui
Model Pembelajaran Terpadu. Skripsi Surakarta: UMS. Tidak diterbitkan.
Dimyanti dan Mudjiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Gredler, Margaret E. Bell.1991. Belajar dan Membelajarkan Jakarta: Rajawali.
Hamalik, Oemar. 1995. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Handayani, Sri. 2005. Usaha Peningkatan Kemampuan Kognitif Siswa Melalui
Problem Solving Dalam Proses Pembelajaran Matematika. Skripsi
Surakarta: UMS. Tidak diterbitkan.
Hartono, Yudi. 2002. Presepsi dan Partisipasi Siswa Dalam Pengajaran Sejarah.
Tesis Surakarta: UNS.Tidak diterbitkan.
Hilda dan Magaretha. 2002. Implementasi Kurikulum Berbasis Kompentensi: Model-
Model Pembelajaran. Bandung: Bima Media Informasi.

Selengkapnya.....

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM MATEMATIKA
MELALUI PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN
KETRAMPILAN PROSES

Oleh :ATIEN DEWI EKAWATI/A410020014
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan proses pembelajaran
matematika dan meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas IV Sekolah
Dasar dengan pendekatan ketrampilan proses. Data dikumpulkan melalui metode
observasi, tes, catatan lapangan, review dan dokumentasi. Penelitian ini
merupakan penelitian tindakan kelas bersifat kolaboratif antara peneliti, guru
matematika, dan kepala sekolah. Analisis data secara kualitatif melalui tiga alur.
Penelitian ini memberikan hasil berupa 1) Langkah-langkah penerapan
pendekatan ketrampilan proses pada pembelajaran matematika kelas IV SD
meliputi : a) tingkat mengobservasi, b) tingkat mengklasifikasi, c) tingkat
memprediksi, d) tingkat mengukur, e) tingkat menyimpulkan, f) tingkat
mengkomunikasikan, 2) Aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran matematika
mengalami peningkatan sampai 80%, 3) Prestasi belajar siswa dalam matematika
mengalami peningkatan sampai 92,5%. Dari data hasil penelitian disimpulkan
bahwa penerapan pendekatan ketrampilan proses dalam pembelajaran matematika
dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan dan pengajaran adalah suatu proses sadar tujuan (Anita
Wahyusari, 2003:1). Maksudnya bahwa kegiatan belajar mengajar itu suatu
peristiwa yang terikat, terarah pada tujuan dan dilaksanakan untuk mencapai
tujuan. Tujuan tersebut perlu dirumuskan untuk membantu dalam mendesain
program dan kegiatan pengajaran. Sebab pendidikan merupakan wadah yang
berfungsi sebagai pencetak sumber daya manusia yang bermutu tinggi.
Peningkatan kualitas pendidikan merupakan salah satu pilar dalam upaya
meningkatkan mutu pendidikan secara keseluruhan.
Peningkatan mutu pendidikan khususnya matematika sangat penting
bagi peradaban manusia, misalnya bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi (IPTEK). Untuk menjadi manusia yang tangguh dalam IPTEK,
siswa perlu mempersiapkan diri sebaik-baiknya dalam hal pelajaran
matematika. Mengingat pentingnya matematika perlu kiranya dilakukan suatu
perencanaan dan perbaikan cara-cara mengajar yang sekiranya mudah
dipahami oleh siswa.
Matematika merupakan salah satu diantara mata pelajaran yang
diajarkan disekolah-sekolah dengan prosentase jam pelajaran yang lebih
banyak dibandingkan mata pelajaran lain. Ironisnya, matematika termasuk
pelajaran yang tidak disukai. Banyak siswa takut akan pelajaran matematika.
Bagi mereka, matematika menjadi momok yang kalau bisa ingin mereka
hindari. Ketakutan-ketakutan yang muncul dari diri siswa tidak hanya
disebabkan oleh siswa itu sendiri, tetapi didukung dengan ketidakmampuan
guru menciptakan situasi yang dapat membawa siswa tertarik pada
matematika.
Metode penyampaian materi sangat berpengaruh terhadap
keberhasilan siswa dalam mempelajari pokok bahasan tertentu. Bisa dikatakan
bahwa ini merupakan kemasan yang dibuat untuk membungkus materi agar
lebih mudah dipahami, menarik, tidak menjenuhkan sehingga tujuan dari
pengajaran dapat tercapai. Metode bisa dijadikan sebagai parameter untuk
melihat sejauh mana siswa dapat menerima dan menerapkan materi yang
disampaikan guru dengan mudah dan menyenangkan dengan metode yang
diterapkan. Salah satu cara tersebut adalah dengan menggunakan belajar aktif,
sehingga diharapkan adanya keaktifan belajar dan kreatifitas siswa.
Aktifitas belajar siswa sangat berpengaruh terhadap keberhasilan
belajarnya, dimana jika aktivitas belajarnya baik maka hasil yang diperoleh
pun baik pula. Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar
dan tindak mengajar diwujudkan dalam bentuk angka yang disebut nilai. Bila
aktifitas belajar yang dilakukan siswa sangat tinggi maka akan diperoleh nilai
yang optimal.
Proses pengajaran yang baik adalah yang dapat meningkatkan proses
belajar mengajar yang aktif dengan adanya komunikasi dua arah antara guru
dan siswa. Belajar mengajar merupakan suatu proses yang harus dialami oleh
peserta didik yang tidak hanya menekankan pada apa yang dipelajari, tetapi
menekankan bagaimana ia harus belajar. Salah satu alternatif bentuk
pengajaran tersebut adalah dengan menggunakan pendekatan ketrampilan
proses.
Pengembangan pendekatan ketrampilan proses merupakan salah satu
upaya yang penting untuk memperoleh keberhasilan belajar yang optimal.
Materi pelajaran akan lebih mudah dikuasai dan dipahami oleh siswa Sekolah
Dasar. Pengertian dan pemahaman siswa di Sekolah Dasar sangat berpengaruh
terhadap pengembangan materi pembelajaran yang mereka dapatkan
selanjutnya. Menurut Marpaung (2004:14)
Jika sistem pendidikan diibaratkan suatu bangunan bertingkat,
Sekolah Dasar merupakan fondasi bangunan tersebut. Fondasi yang
kuat merupakan syarat mutlak agar suatu bangunan bertingkat dapat
berdiri tegak diatasnya dengan kokoh dan tahan lama. Demikian
pentingnya suatu fondasi sehingga fondasi harus dikerjakan dengan
hati-hati dan terukur. Semakin tinggi dan semakin kuat bangunan
diatasnya, semakin diperlukan perhitungan yang teliti dalam
pembuatan fondasinya. Demikian jugalah pentingnya pendidikan di
Sekolah Dasar, khususnya pendidikan matematika.
Pembelajaran dengan pendekatan ketrampilan proses pada siswa
Sekolah Dasar sebagai stimulasi aktifitas belajar siswa yang merupakan salah
satu faktor penting dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini mengingatkan
bahwa kegiatan belajar mengajar diadakan dalam rangka memberikan
pengalaman-pengalaman belajar pada siswa. Jika siswa aktif dalam kegiatan
tersebut kemungkinan besar mereka akan dapat mengambil pengalaman-
pengalaman belajar tersebut. Kegiatan belajar mengajar dipandang sebagai
suatu kegiatan komunikasi antara peserta didik dan guru. Kegiatan komunikasi
ini tidak akan tercapai apabila peserta didik tidak dapat aktif dalam kegiatan
belajar mengajar. Dengan adanya keaktifan siswa dalam belajar kemungkinan
besar prestasi belajar yang dicapai akan memuaskan. Model pembelajaran
matematika dengan pendekatan ketrampilan proses ini diharapkan dapat
meningkatkan keaktifan, kreativitas siswa dan pada akhirnya dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa dalam matematika.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan pada uraian latar belakang masalah diatas, peneliti
mengidentifikasikan masalah-masalah yang timbul dalam penelitian yang
meliputi :
1. Siswa menganggap pelajaran matematika merupakan pelajaran yang sulit
sehingga masih rendahnya prestasi belajar siswa.
2. Kurang tepatnya pendekatan belajar yang digunakan guru di dalam
menyampaikan materi ajar.
3. Kegiatan belajar akan dapat mewujudkan hasil yang memuaskan siswa
dengan harapan siswa ikut aktif dalam pembelajaran.
4. Pendekatan ketrampilan proses merupakan alternatif metode yang dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa.
C. Pembatasan Masalah
Permasalahan penelitian ini difokuskan pada pembelajaran dengan
pendekatan ketrampilan proses untuk meningkatkan prestasi belajar siswa
pada pokok bahasan operasi hitung perkalian kelas IV semester I.
D. Perumusan Masalah
Adapun permasalahan yang muncul berdasarkan latar belakang dan
pembatasan masalah yang telah dikemukakan tersebut sebagai berikut :
1. Bagaimana proses pembelajaran matematika dengan pendekatan
ketrampilan proses yang diterapkan di Sekolah Dasar ?
2. Adakah peningkatan prestasi belajar matematika siswa kelas IV Sekolah
Dasar selama proses pembelajaran melalui pendekatan ketrampilan
proses ?
E. Tujuan Penelitian
Memperhatikan masalah-masalah yang timbul dalam pembelajaran
diperlukan usaha-usaha agar terdapat peningkatan prestasi belajar siswa.
Tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mendeskripsikan proses pembelajaran matematika di Sekolah Dasar
kelas IV dengan pendekatan ketrampilan proses.
2. Untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas IV Sekolah
Dasar selama proses pembelajaran melalui pendekatan ketrampilan proses.
F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis penelitian ini dapat bermanfaat sebagai prinsip-
prinsip yang berhubungan dengan peningkatan prestasi belajar siswa yang
dapat disusun sebagai kerangka kerja yang bermanfaat bagi peningkatan
kemampuan dan ketrampilan guru dalam meningkatkan keikutsertaan atau
keterlibatan siswa dalam pembelajaran matematika.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Guru :
1) Membantu guru dalam meningkatkan prestasi belajar siswa dengan
memperhatikan dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi
belajar siswa baik faktor intern maupun ekstern.
2) Guru akan semakin menyadari pentingnya kerja kolaboratif.
3) Guru dapat mengubah pembelajaran secara konvensional menjadi
pembelajaran yang progresif dengan pendekatan ketrampilan
proses.
4) Menanamkan kreativitas dalam usaha pembenahan pembelajaran
matematika.
b. Bagi Siswa :
1) Siswa dapat terlibat atau berpartisipasi aktif dalam proses
pembelajaran matematika.
2) Siswa lebih termotivasi dan berminat dalam mengikuti proses
pembelajaran matematika.
3) Siswa mempunyai kedudukan yang sama dalam menentukan
tingkat keberhasilannya.
c. Bagi Peneliti :
1) Untuk mengetahui keefektifan pembelajaran dengan pendekatan
ketrampilan proses.
2) Untuk mendapatkan gambaran tentang prestasi belajar matematika
melalui pembelajaran dengan pendekatan ketrampilan proses.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Mulyono. 1999. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.2001. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Buchori dkk. 2004. Gemar Belajar Matematika SD Kelas 4. Semarang : Aneka Ilmu.
Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.
Hamalik, Oemar. 1995. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.
Kartasasmita, Bana G. dkk. 1993. Kamus Matematika Dasar. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Khafid dan Suyati. 2004. Pelajaran Matematika 4. Jakarta : Erlangga.
Marpaung. 2004. BASIS : Pendidikan Matematika. Yogyakarta : Majalah BASIS.
Miles, Matthew B and A. Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif
(Terjemahan Tjejep Rohendi Rohidi). Jakarta : UI Press.

Selengkapnya.....